JAKARTA (kabarpublik.id) – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i menegaskan pentingnya pemahaman dan pengamalan Pancasila, khususnya Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai landasan utama (causa prima) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama.
Penegasan tersebut disampaikan Wamenag saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Tahun 2026 yang digelar di Jakarta, pada 29–30 Januari 2026.
Menurut Romo Syafi’i, Rakernas BMBPSDM 2026 diharapkan menghadirkan pendekatan baru dalam pembinaan SDM Kemenag. Pembinaan tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan kinerja birokrasi, tetapi juga memastikan masyarakat mampu memahami dan mengamalkan ajaran agama secara substantif dan moderat.
Ia menuturkan bahwa Presiden Prabowo Subianto secara konsisten menekankan prinsip perbaikan berkelanjutan dalam tata kelola pemerintahan. “Apa yang belum baik harus diperbaiki, yang sudah baik ditingkatkan, dan jika sudah berjalan optimal, maka perlu dilakukan lompatan kemajuan. Prinsip ini sejalan dengan amanat UUD 1945,” ujarnya.
Dalam pengembangan SDM aparatur, Wamenag menegaskan pentingnya konsensus kebangsaan sebagai fondasi bersama, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Pancasila, kata dia, menjadi titik temu seluruh keberagaman bangsa Indonesia.
Namun bagi Kementerian Agama, Sila Pertama Pancasila memiliki posisi yang sangat fundamental. Mengutip pemikiran Bung Karno, Romo Syafi’i menjelaskan bahwa nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menjiwai keempat sila lainnya.
“Setiap sila berikutnya harus selalu dikaitkan dan disinari oleh sila pertama,” tegasnya.
Ia menambahkan, ASN Kemenag memikul tanggung jawab strategis karena kementerian ini secara langsung berkaitan dengan urusan keagamaan dan ketuhanan. Oleh sebab itu, setiap kebijakan, program, dan standar kerja harus berlandaskan nilai-nilai ketuhanan, bukan semata pertimbangan administratif.
“ASN Kementerian Agama tidak boleh jauh dari nilai ketuhanan. Seluruh rumusan kebijakan dan pelaksanaan tugas harus berangkat dari semangat uluhiyah. Di sinilah peran penting BMBPSDM dalam meningkatkan kualitas SDM dan umat secara keseluruhan,” pungkasnya.





