Breaking News
Live Update Berita Terkini

TPBIS Jangkau 13,9 Juta Warga, Perpustakaan Kini Jadi Ruang Pemberdayaan Masyarakat

Minggu, 2 Agu 2026
Editor: Eky
Dengarkan dgn suara Siap
3K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang dijalankan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) sejak 2018 telah menjangkau sekitar 13,9 juta masyarakat secara kumulatif. Program ini dinilai berhasil mengubah persepsi masyarakat terhadap perpustakaan, dari sekadar tempat membaca menjadi ruang produktif untuk meningkatkan kualitas hidup.

Hal tersebut disampaikan Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, dalam Pertemuan Pemangku Kepentingan Tingkat Nasional Program TPBIS Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Aminudin menjelaskan, TPBIS mengedepankan kolaborasi lintas sektor dan semangat gotong royong. Pada 2026, program ini dilaksanakan di 750 lokus di berbagai daerah dan terus didorong untuk direplikasi melalui dukungan pemerintah daerah serta para pemangku kepentingan.

Menurutnya, perpustakaan kini menjadi ruang yang mendorong masyarakat meningkatkan kemampuan literasi dan keterampilan guna memperbaiki taraf hidup. Kehadiran program tersebut juga memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat kreativitas dan pemberdayaan masyarakat.

Ia menegaskan, keberhasilan TPBIS tidak lepas dari sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, komunitas, dan masyarakat. Konsep program yang dirancang dari pusat tersebut dijalankan langsung di tingkat desa dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.

Aminudin juga menepis anggapan bahwa perpustakaan mengambil alih fungsi organisasi perangkat daerah lainnya. Menurutnya, perpustakaan justru menjadi wadah kolaborasi yang mempertemukan berbagai sektor untuk mencapai tujuan bersama, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lebih lanjut, ia menilai penguatan perpustakaan merupakan investasi jangka panjang yang penting dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, pembangunan perpustakaan dan pengembangan programnya harus dipandang sebagai investasi masa depan yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan yang sama, penulis dan tokoh publik Gita Wirjawan menyoroti pentingnya budaya membaca, dokumentasi, serta distribusi pengetahuan sebagai fondasi kemajuan bangsa. Menurutnya, Indonesia dan kawasan Asia Tenggara masih menghadapi tantangan dalam mendokumentasikan serta menyebarluaskan kekayaan pengetahuan yang dimiliki masyarakat.

Sementara itu, Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, menegaskan bahwa penguatan literasi melalui perpustakaan menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Dukungan juga datang dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Desa dan Daerah Tertinggal, Mulyadin Malik, menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat pengembangan perpustakaan desa melalui berbagai regulasi, termasuk revisi Undang-Undang Desa dan pemanfaatan Dana Desa yang dapat disinergikan dengan program TPBIS.

Pada sesi berbagi praktik baik, Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, Murni Baso, memaparkan sejumlah inovasi yang dilakukan untuk menjaga keberlanjutan program. Inovasi tersebut meliputi layanan Klinik Pustaka, pelatihan keterampilan berbasis potensi desa, penguatan literasi digital, hingga pemberian penghargaan bagi perpustakaan desa dan pengelola yang aktif.

Mengusung tema “Kolaborasi Lintas Sektor untuk Menguatkan Perpustakaan sebagai Ruang Tumbuh Masyarakat”, pertemuan nasional ini dihadiri oleh dinas perpustakaan dan kearsipan, Bappeda, pemerintah desa dan kelurahan, kementerian dan lembaga, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas literasi, media, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.