News Update
Live Update Berita Terkini

Identifikasi DNA Jenazah Enggano-Penumpang KM Arupadhatu 1 Berlanjut

Jumat, 18 Sep 2026
Editor: Jamalul Insan
Istri jurnalis Merdeka.com yang hilang kontak, Arie Basuki, Yanti (kiri), dan istri jurnalis iNews, Yudistiro Pranoto, Rodiah Nasution (kanan), menangis usai pertemuan dengan tim SAR gabungan di Carita, Pandeglang, Banten, Kamis (17/9/2026). Tim SAR gabungan resmi menghentikan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap rombongan jurnalis dan awak kapal cepat KM Arupadatu I yang hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda setelah berlangsung selama 10 hari. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/kye
Dengarkan dgn suara Siap
2K pembaca
PANDEGLANG  (Kabarpublik.id) – Kepolisian Daerah Banten memastikan kelanjutan proses pencocokan DNA antara sampel antemortem keluarga rombongan kapal cepat KM Arupadatu I dan jenazah tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, namun membutuhkan waktu kurang lebih dua pekan.

“Data antemortem dan sampel DNA keluarga dari posko kita di Banten sudah diserahkan ke Polda Bengkulu untuk persesuaian. Saat ini masih proses identifikasi, dan umumnya memakan waktu lebih kurang dua minggu,” kata Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli A Hutapea dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis petang.

Maruli memaparkan, jenazah berjenis kelamin laki-laki diperkirakan berusia 50 tahun dengan tinggi badan sekitar 163 cm tersebut ditemukan mengenakan celana pendek selancar di kawasan Pulau Enggano.

Karena saat ditemukan tidak ada warga lokal Enggano yang merasa kehilangan, kata dia, pihak forkopimcam setempat sempat memakamkan jenazah tersebut pada malam harinya.

Namun, lanjutnya, menyusul koordinasi lintas wilayah antara Polda Banten dan Polda Bengkulu, makam jenazah tersebut kembali digali untuk selanjutnya dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu guna menjalani otopsi serta identifikasi postmortem.

Dari total delapan penumpang KM Arupadatu I yang terdiri atas lima jurnalis, dua kru kapal, dan satu pemandu, enam di antaranya terdata sebagai warga ber-KTP Provinsi Banten. Namun dia tidak menjelaskan secara rinci siapa yang dimaksud.

Maruli memastikan Polda Banten akan memelihara komunikasi dan memberikan pendampingan penuh kepada pihak keluarga untuk memantau perkembangan medis resmi dari Tim DVI Polri yang menangani.

“Karena yang paling dibutuhkan keluarga hari ini adalah dukungan. Yang dibutuhkan keluarga hari ini adalah informasi-informasi, karena keluarga dan kita semua masih memelihara harapan bahwa kawan-kawan kita, saudara-saudara kita ini masih bisa ditemukan. Oleh karena itu kami akan terus menjaga komunikasi untuk berkoordinasi dengan para pihak keluarga,” kata dia.

Adapun penyelarasan data DNA antemortem keluarga korban dengan sampel jenazah postmortem ini dinilai menjadi harapan besar semua pihak untuk memastikan apakah jenazah tersebut merupakan bagian dari delapan penumpang kapal.

Hal tersebut tidak lepas dari kebuntuan tim SAR yang sampai operasi gabungan dihentikan pada hari ke-10 belum mendapatkan hasil positif.

Dalam rentang waktu tersebut 523 personel SAR gabungan telah melakukan penyisiran ke pulau-perairan sekitar Gunung Anak Krakatau (meliputi Provinsi Banten, Lampung, dan Bengkulu) terhitung sejak kapal dan para penumpang dilaporkan hilang kontak pada Senin (7/9) itu.

Delapan orang yang dalam pencarian terdiri atas lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas (Kantor Berita ANTARA Biro Banten), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudhistiro (iNews), Firdaus (Anadolu), dan Donal (jurnalis lepas), sedangkan tiga lainnya, yakni Warta (kapten kapal), Surakman (ABK), serta Heriyanto (pemandu).

Sementara terkait jenazah pria tanpa identitas itu, secara spesifik dilaporkan ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Sabtu (12/9) oleh Kantor SAR Bengkulu dan warga setempat. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.