SUKABUMI (kabarpublik.id) – Keberhasilan Ekspedisi Cicatih Elpala 2026 tidak hanya ditentukan oleh tim yang menjelajahi hutan dan mengarungi Sungai Cicatih. Di balik layar, terdapat tim pendukung yang bekerja tanpa sorotan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar.
Selama ekspedisi yang berlangsung pada 4–11 Juli 2026, operasional base camp dikendalikan oleh Raihana Hayatunufus, Syahira Putria Adantie, dan Akmal Kurniawan. Mereka bertanggung jawab mengatur logistik, komunikasi, administrasi, serta koordinasi antartim.
Ketiganya didukung tim Rumah Elpala yang terdiri atas Wina Maria, Mohammad Farish, Surya Pagi Asa, Hendrata Yudha, Susan Indahwati, Hizkia Mandagie, Onaria Fransisca, dan Tomi Budiarto. Bersama-sama mereka memastikan seluruh kebutuhan peserta terpenuhi selama ekspedisi berlangsung.
Raihana mengatakan, pekerjaan tim base camp dimulai sejak kedatangan di Desa Cimelati pada 4 Juli 2026. Selain menyiapkan tenda, posko, dan logistik, tim juga membangun komunikasi dengan masyarakat setempat agar seluruh kegiatan berjalan harmonis.
“Pendekatan dengan warga menjadi bagian penting agar seluruh kegiatan berjalan lancar. Kami ingin masyarakat merasa menjadi bagian dari ekspedisi ini,” ujar Raihana.
Pada 5 Juli 2026, base camp mulai dipadati peserta, tim pendukung, talent, serta alumni Elpala. Seluruh peserta bergotong royong mempersiapkan perlengkapan sebelum tim utama memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Selama tim berada di lapangan, tim base camp terus memantau perkembangan melalui radio komunikasi, mengelola distribusi logistik, mendokumentasikan setiap laporan perjalanan, serta memastikan arus informasi berjalan tanpa hambatan.
Memasuki 8 Juli 2026, seluruh tim berpindah ke base camp di kawasan Saka Alam, Leuwi Lalay sebagai persiapan memasuki etape pengarungan Sungai Cicatih. Koordinasi antara tim lapangan dan tim pendukung semakin intensif mengingat medan yang semakin menantang.
Pada 9 Juli, peserta menjalani latihan sekaligus pengarungan sungai bersama tim Wanadri. Sementara itu, tim pendukung tetap bersiaga memantau kondisi peserta dan memastikan seluruh kebutuhan logistik tersedia.
Tantangan terbesar terjadi pada 10 Juli saat peserta mengarungi Sungai Cicatih sejauh hampir 30 kilometer selama sekitar delapan jam. Di saat bersamaan, tim pendukung telah lebih dulu menyiapkan lokasi singgah, logistik, serta makanan hangat untuk menyambut rombongan yang tiba setelah menempuh perjalanan panjang.
“Rasa lelah terbayar ketika melihat seluruh tim tiba dengan selamat. Momen makan bersama di akhir perjalanan menjadi kenangan yang tidak terlupakan,” kenang Raihana.
Ekspedisi resmi berakhir pada 11 Juli 2026. Seluruh peserta kembali dengan membawa pengalaman baru, semangat kebersamaan, serta pelajaran tentang pentingnya kerja sama, kepercayaan, dan pengorbanan dalam setiap perjalanan.
Bagi Raihana, keberhasilan ekspedisi merupakan hasil kerja kolektif seluruh anggota, termasuk mereka yang bekerja tanpa banyak dikenal publik.
Menurutnya, tim pendukung menjadi fondasi utama yang memastikan setiap tahapan ekspedisi berjalan sesuai rencana hingga seluruh peserta kembali dengan selamat.





