PARIAMAN (kabarpublik.id) – Kunjungan wisatawan lokal ke sejumlah objek wisata di Kota Pariaman, Sumatera Barat, masih membantu menggerakkan perekonomian pedagang kuliner dan pelaku usaha lainnya di tengah penurunan kunjungan akibat kabut asap.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Pariaman Ferialdi mengatakan, kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera Barat berdampak terhadap jumlah wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.
“Jumlah kunjungan wisatawan memang menurun akibat kabut asap, tetapi wisatawan lokal masih ada,” kata Ferialdi di Pariaman, Sabtu.
Menurut dia, wisatawan lokal berperan penting dalam menjaga aktivitas pariwisata, terutama di destinasi yang menjadi pilihan masyarakat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
Kunjungan tersebut turut menopang kegiatan ekonomi warga yang membuka usaha di sekitar objek wisata, termasuk pedagang makanan dan minuman.
Ferialdi menjelaskan, kondisi cuaca dan kualitas udara memengaruhi kenyamanan wisatawan saat bepergian ke Pariaman. Akibatnya, jumlah wisatawan dari luar Sumatera Barat menurun dibandingkan sebelum kabut asap melanda wilayah tersebut.
“Sebelum kabut asap, kunjungan wisatawan dari dalam dan luar provinsi cukup ramai setiap pekan,” ujarnya.
Pemerintah daerah terus memantau perkembangan kondisi lingkungan dan dampaknya terhadap sektor pariwisata. Pemantauan tersebut menjadi pertimbangan dalam menyesuaikan promosi destinasi dengan situasi yang berlangsung.
Disparbud juga mengimbau wisatawan untuk menjaga kesehatan selama beraktivitas di luar ruangan, terutama anak-anak. Penggunaan masker disarankan saat berada di kawasan yang terdampak kabut asap.
Salah seorang wisatawan asal Kabupaten Padang Pariaman, Yulisa Fitri, mengatakan dirinya bersama keluarga tetap mengunjungi sejumlah objek wisata di Pariaman ketika kondisi kabut asap mulai membaik.
“Kalau kabut asap kembali terlihat pekat, kami tidak akan pergi,” kata Yulisa.
Ia menambahkan, keluarganya tetap menggunakan masker meskipun kondisi udara tampak membaik. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko paparan kabut asap yang telah menyelimuti wilayah itu selama hampir dua bulan.
Dampak kabut asap juga dirasakan pedagang kuliner di kawasan Pantai Gandoriah, salah satu destinasi wisata unggulan Kota Pariaman.
Seorang pedagang bernama Mawar mengatakan penjualannya menurun akibat berkurangnya kunjungan wisatawan. Meski demikian, ia masih melayani pembeli yang datang, terutama wisatawan lokal.
“Penjualan memang menurun, tetapi pembeli masih ada karena wisatawan lokal tetap berkunjung,” ujarnya.
Untuk menyesuaikan dengan kondisi penjualan, Mawar bersama pedagang lainnya tetap membuka usaha, tetapi mengurangi jumlah dagangan yang disiapkan setiap hari.
Keberadaan wisatawan lokal tersebut setidaknya membantu menjaga perputaran ekonomi masyarakat di kawasan wisata Pariaman, meskipun sektor pariwisata masih menghadapi tantangan akibat kabut asap.




