News Update
Live Update Berita Terkini

Teater Kebun Hantu Angkat Dampak Algoritma Digital terhadap Identitas Manusia

Senin, 12 Okt 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Salah satu adegan dalam pertunjukan "Kebun Hantu" di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026). ANTARA/Abdu Faisal
Dengarkan dgn suara Siap
4.3K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Pertunjukan teater kontemporer Kebun Hantu mengangkat dampak algoritma platform digital terhadap kehidupan pribadi, tubuh, dan ingatan manusia modern. Pementasan yang berlangsung di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026) malam, menggambarkan manusia yang semakin terikat pada teknologi digital.

Aktor Badri Adalah Badri mengatakan, dialog puitis dengan istilah dunia siber dalam pertunjukan tersebut merefleksikan kehidupan masyarakat yang sulit lepas dari gawai dan pengaruh algoritma.

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026

Keterangan foto: Poster peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober.

“Dunia digital kan kayak begitu. Semakin kita buka, kita semakin kedikte oleh algoritma yang merasa memahami segalanya,” kata Badri kepada ANTARA seusai pementasan.

Menurut Badri, Kebun Hantu dikembangkan melalui proses eksperimental yang menggabungkan pengalaman personal, latar belakang psikologis, dan trauma fisik para pemeran ke dalam bahasa panggung.

Sutradara Roy Julian mengolah pengalaman para aktor, termasuk Bambang Wahyudin, Parulian, Marina Novianti, dan Yuli Goplumb, menjadi bagian dari naskah pertunjukan.

“Roy Julian mengemas latar belakang kami semua menjadi naskah. Dialog atau adegan repetitif seperti patung itu menceritakan orang-orang yang kehilangan tubuh dan identitasnya sendiri,” ujar Badri.

Kebun Hantu Refleksikan Hilangnya Identitas Manusia

Melalui dialog berulang dan gerakan tubuh yang menyerupai patung, Kebun Hantu mengeksplorasi persoalan identitas manusia di tengah dominasi teknologi digital.

Pertunjukan ini juga menghadirkan gagasan tentang “arsip tubuh”, yakni pengalaman dan jejak kehidupan yang membentuk identitas seseorang. Dalam pementasan tersebut, gagasan itu diolah untuk menggambarkan manusia yang kehilangan kemampuan mengenali dirinya sendiri.

Badri menjelaskan, proses pengembangan pertunjukan berlangsung sekitar 10 bulan, mulai dari pembacaan naskah (reading) hingga terbentuknya keseluruhan pementasan.

“Proses reading sampai bentuk (pertunjukan) itu makan waktu 10 bulanan. Latihan 10 bulan hanya untuk pementasan satu jam lebih. Itulah gila-nya teater,” katanya.

Meski melalui proses panjang, para pemain berharap pertunjukan tersebut tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga mengajak penonton memikirkan kembali hubungan mereka dengan teknologi, tubuh, dan identitas pribadi.

“Namun, kami berharap penonton pulang dengan membawa sesuatu yang bisa dicerna di kepala mereka,” ujar Badri.

Pertunjukan Digelar Gratis di Taman Ismail Marzuki

Teater Kebun Hantu merupakan hasil kolaborasi Kantor Teater dan Trippicandid. Pertunjukan berdurasi sekitar 70 menit ini menjadi ruang eksplorasi artistik untuk membahas persoalan manusia modern melalui pendekatan teater kontemporer.

Pementasan dijadwalkan kembali berlangsung pada Selasa (13/10/2026) pukul 20.00 WIB di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Masyarakat dapat menyaksikan pertunjukan tersebut secara gratis dengan terlebih dahulu melakukan registrasi daring.

Melalui pendekatan eksperimental dan eksplorasi pengalaman personal para aktor, Kebun Hantu mengajak penonton melihat kembali bagaimana teknologi digital memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk cara manusia memahami diri sendiri dan membangun hubungan dengan orang lain.

No More Posts Available.

No more pages to load.