JAKARTA (Kabarpublik.id) – Selama bertahun-tahun, film horor Indonesia identik dengan hantu, kutukan, rumah angker, atau sosok-sosok supranatural yang meneror manusia.
Berbeda dengan kecenderungan tersebut, film “Sleep No More” atau “Monster Pabrik Rambut” yang disutradarai Edwin (sebelumnya menyutradarai film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”) menawarkan pendekatan berbeda.
Ia memindahkan sumber ketakutan dari dunia gaib ke dimensi yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu: kapitalisme dan eksploitasi buruh.
Edwin menarik garis silsilah kembali ke akarnya pada era perfilman tahun 1920-an. Film klasik seperti “Dracula“, “Nosferatu” atau “The Cabinet of Dr Caligari” menurut dia, bukan horor tentang setan, tapi merekam kecemasan massal terhadap kebangkitan revolusi industri.
“Monster Pabrik Rambut” mengadopsi semangat lawas tersebut secara kontekstual.
Film yang skenarionya ditulis oleh Eka Kurniawan, Edwin, dan Daishi Matsunaga itu menghadirkan horor yang mengajak penonton untuk merenungkan realitas sosial yang sering kali luput dari perhatian.
Cerita berpusat pada dua saudara perempuan, Putri yang diperankan Rachel Amanda dan Ida yang dimainkan Lutesha.
Keduanya bekerja di pabrik rambut PT Raga Abadi setelah mewarisi utang dari ibu mereka yang meninggal dunia.
Utang tersebut, yang sebelumnya digunakan untuk membiayai pendidikan Ida, menjadi beban yang memaksa mereka tetap bertahan dalam lingkungan kerja yang tidak sehat.
Sejak awal, film membangun suasana yang suram di pabrik rambut itu. Seperti bangunan tua yang nyaris kehilangan identitas jika saja di sana tidak ada pekerjanya.
Nuansa klasik dari gedung sekte atau tempat pertemuan anggota suatu perkumpulan tertentu di masa lalu begitu kuat, bahkan meski Edwin memberitahukan bahwa gedung itu tadinya merupakan bekas bangunan studio lama Perusahaan Produksi Film Negara (PFN).
Tidak ada warna-warna cerah atau suasana yang menyalakan harapan. Hanya bermandikan cahaya neon redup menerangi tumpukan rambut, sisir paku, dan pekerja yang bergerak seperti mesin di bawahnya.
Di bawah kendali Maryati, tokoh yang dimainkan dengan kuat oleh seniman tari ternama Didi Nini Thowok, para pekerja didorong untuk terus bekerja tanpa tidur demi mengejar target produksi dan bonus.
Maryati tidak tampil sebagai antagonis konvensional. Ia lebih menyerupai pemimpin sekte yang berkali-kali menggelorakan pentingnya kerja keras, dan menilai wajar lembur dan cedera yang dialami setelahnya demi pengharapan masa depan yang lebih baik.
Di sinilah “Sleep No More” menunjukkan tingkatan kengerian yang unik dan berbeda.
Film ini tidak mengandalkan kemunculan sosok menyeramkan di lorong gelap atau suara-suara misterius.
Teror justru muncul dari suasana yang tersaji dalam visualnya, seperti: kelelahan kronis, tekanan ekonomi, dan sistem kerja yang perlahan mematung orang-orang pada posisi yang tidak berdaya.
Para buruh yang rela bertahan untuk terus-menerus lembur, mulai mengalami halusinasi dan perubahan perilaku.
Mereka berjalan tanpa ekspresi, berbicara dengan ritme yang aneh, serta menjalani rutinitas monoton seolah kehilangan kesadaran sebagai individu.
Gambaran tersebut membuat film ini lebih dekat dengan horor psikologis dan horor tubuh dibandingkan horor supranatural.
Kamera banyak menggunakan teknik pengambilan gambar jarak dekat. Teknik tersebut dipadukan dengan tata rias wajah yang efektif.
Efek praktis
Edwin menolak kebergantungan pada rekayasa digital komputer penuh. Ia memilih mengandalkan kekuatan efek praktis yang mengerikan.
Salah satu elemen tersebut hadir melalui karakter Bona yang dimainkan Iqbaal Ramadhan.
Bona merupakan saudara tiri Putri dan Ida yang memiliki kemampuan regenerasi tubuh.
Ia dapat menumbuhkan kembali anggota tubuh yang rusak atau hilang, sebuah kemampuan yang secara visual menghadirkan banyak adegan mengganggu sekaligus memikat.
Karakter Bona menjadi simbol paling jelas mengenai eksploitasi pekerja dalam sistem kapitalis yang diceritakan di film ini.
Tubuhnya benar-benar dapat dimutilasi, lalu diganti yang baru lagi tanpa henti.
Dalam konteks film, kemampuan tersebut bukanlah anugerah, melainkan kutukan yang menggambarkan bagaimana pekerja sering diperlakukan sebagai alat produksi yang dapat diganti yang baru, ketika yang lama tidak lagi menguntungkan.
Bagi Iqbaal Ramadhan, peran ini menjadi salah satu langkah paling berani dalam karirnya.
Selain karena tampil sebagai aktor dan juga terlibat sebagai produser eksekutif, kehadirannya juga membantu memperluas daya tarik film.
Yang lebih penting, ia berhasil menghadirkan karakter yang berbeda dari peran sebagai cowok keren yang selama ini melekat pada dirinya.
Dari sisi teknis, “Monster Pabrik Rambut” benar-benar solid dan relevan dengan judulnya. Sinematografi garapan Akiko Ashizawa benar-benar menciptakan visual monster, adapun suasana yang dingin dan menyesakkan menjadikan setiap sudut kemunculannya terasa tidak nyaman untuk ditinggali.
Desain produksi karya Menfo Tantono menjadi salah satu aspek yang paling menonjol. Studio berhasil disulap menjadi pabrik rambut yang membuat gusar penonton perfeksionis saat melihat detail-detail yang memperkuat kesan kumuh, padat, dan sempit itu.
Pilihan Edwin untuk menggunakan 80 hingga 90 persen efek praktis patut diapresiasi. Rambut, prostetik, manekin, darah buatan serta gerakan monster betul-betul mengayun, merefleksikan pengerjaan di tempat syuting secara fisik, meski efek citra digitalnya masih terasa sedikit.
Pendekatan itu membuat pengalaman menonton terasa lebih nyata dibandingkan jika seluruh efek bergantung pada teknologi digital.
Keputusan tersebut terbukti efektif. Monster-monster yang muncul memiliki tekstur fisik yang dapat dirasakan penonton.
Para aktor pun dapat berinteraksi langsung dengan makhluk-makhluk tersebut sehingga menghasilkan aksi dan reaksi yang lebih natural.
Film ini juga menarik karena mengaburkan batas antara fantasi dan realitas.
Di satu sisi terdapat elemen mutasi tubuh yang jelas tidak realistis. Namun di sisi lain, akar persoalan yang melatarbelakangi cerita sangat dekat dengan kehidupan banyak pekerja: utang, target produksi, ketidakpastian ekonomi, dan tuntutan untuk terus bekerja meski kondisi fisik tidak memungkinkan.
Meski demikian, film tidak sepenuhnya sempurna. Bagian akhir cerita terasa lebih ajaib daripada babak-babak sebelumnya.
Sejumlah simbol dan metafora yang dibangun sepanjang film juga tidak seluruhnya mendapatkan penjelasan yang memuaskan.
Bagi sebagian penonton, hal ini mungkin menghadirkan ruang interpretasi yang menarik. Namun bagi penonton yang menginginkan penyelesaian yang lebih jelas, akhir film bisa terasa kurang tuntas.
Terlepas dari kekurangan tersebut, pesan utama “Sleep No More” tetap tersampaikan dengan kuat. Film ini mengingatkan bahwa monster terbesar dalam kehidupan modern sering kali bukan makhluk gaib, melainkan sistem yang mengubah manusia menjadi mesin.
Tubuh manusia dipaksa bekerja melampaui batas, sementara kelelahan dan penderitaan perlahan dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Melalui desain produksi horor yang unik, satire sosial yang tajam, dan visual yang mengganggu, Edwin berhasil menghadirkan salah satu film horor Indonesia yang paling berani dalam beberapa tahun terakhir.
Pada bagian kredit untuk kerabat kerja, terdapat animasi komik yang memiliki visual atraktif dan bercerita, seperti menandakan bahwa film itu mungkin dibuat dengan selera pecinta film-film “arthouse“.
Saat cerita “Sleep No More” berakhir, penonton seakan dibawa dalam perenungan sesaat untuk mempertanyakan lagi harga yang harus dibayar ketika semua orang menormalkan praktik eksploitasi buruh.
Pada lagu “Kepala, Pundak, Kerja Lagi” dari Sal Priadi yang mengisi lajur suara orisinal film itu seperti menegaskan, terlalu nyentrik lah orang-orang yang menormalkan sistem seperti itu.
Film itu juga dibintangi oleh Sal Priadi, Luqman ‘Kev’ Hakim dan Aryani Willems.
Film yang sudah lebih dulu menggelar “world premiere” di Berlinale 2026 itu juga segera berkompetisi di Fantasia, Montreal, Kanada, 16 Juli sampai 2 Agustus.







