“Israel sedang kehilangan teman. Mereka tidak mendapatkan sekutu baru, justru kehilangan sekutu. Mereka kehilangan sekutu di mana-mana,” kata Miliband dalam sebuah wawancara dengan siniar Inggris, The Rest is Politics, Selasa (15/9).
Dia menambahkan pengumuman sanksi terbaru, yang menargetkan pemukiman ilegal Israel di Tepi Barat yang diduduki, muncul setelah adanya peringatan bahwa solusi dua negara sedang dihancurkan oleh kenyataan di lapangan.
“Semua langkah itu untuk mengubah keadaan tersebut. Rezim sanksi ini menargetkan pendudukan ilegal, bukan menargetkan atau mendelegitimasi Israel dengan cara apa pun,” katanya.
Status quo tidak berjalan dengan baik, tambahnya. Proyek perluasan pemukiman E1 Israel telah lama dipandang sebagai “garis merah” bagi komunitas internasional.
“Karena pada dasarnya, hal itu akan memisahkan Yerusalem Timur dari Tepi Barat, yang benar-benar membuat Palestina tidak dapat berdiri sendiri,” ucap Miliband.
Dia mengatakan kombinasi antara putusan Mahkamah Internasional pada 2024—yang memerintahkan Israel untuk mengakhiri pendudukan, membongkar pemukiman, dan membayar ganti rugi—, lamanya pendudukan atas wilayah Palestina, serta pengungsian banyak warga Palestina telah mendorong pemerintah untuk mengambil langkah tersebut.
“Kita tidak boleh menyerah di hadapan terorisme pemukim,” kata Miliband sembari menyatakan keyakinannya bahwa tidak akan ada stabilitas di Timur Tengah tanpa solusi dua negara antara Palestina dan Israel.
Solusi dua negara
“Kita harus menghentikan terorisme pemukim, terorisme yang sesungguhnya. Saya menggunakan istilah itu, pembersihan etnis yang dilakukan oleh para teroris pemukim. Itulah yang sedang terjadi,” tuturnya.
Miliband mengatakan sebelum mengumumkan sanksi tersebut, dia memikirkan apa yang akan dikatakan ibunya, yang meninggal pada Mei lalu.
“Dia (ibu saya) akan berkata, Lihatlah apa yang terjadi pada rakyat Palestina! Lihatlah apa yang terjadi pada orang-orang malang ini. Ini salah,” kata Miliband.
Baru-baru ini, Miliband bertemu sekelompok orang, termasuk seorang dokter yang pernah bekerja di Gaza, dan menyebut apa yang mereka sampaikan sebagai sesuatu yang “benar-benar tidak bisa diungkapkan” dan “mengerikan”.
Tindakan Israel yang menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, menurut Miliband, tampaknya merupakan strategi yang benar-benar disengaja.
“Situasi di lapangan sangat buruk. Tidak ada yang dapat membenarkan apa yang telah terjadi di Gaza. Sejak apa yang disebut gencatan senjata, 1.200 warga Palestina telah terbunuh. Itu bukan gencatan senjata yang berarti,” katanya.
Inggris tidak boleh menyerah dalam menghadapi terorisme pemukim. “Kami tidak tahu apa yang akan terjadi dalam pemilu Israel pada 27 Oktober, tetapi kami berupaya mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada rakyat Israel untuk mengatakan, lihat, masyarakat internasional tidak akan tinggal diam ketika pendudukan ini terus berlangsung,” ujarnya.
Sebelumnya, pekan lalu, Miliband mengumumkan berbagai langkah, termasuk larangan impor barang dari pemukiman ilegal Israel, sanksi terhadap perusahaan dan individu yang memfasilitasi perluasan permukiman, serta sanksi tambahan terhadap ekstremis Israel yang diduga mendukung atau menghasut kekerasan terhadap warga Palestina.
Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari kebijakan Inggris untuk mempertahankan peluang solusi dua negara.
Sumber: Anadolu (ant)







