Breaking News
Live Update Berita Terkini

Krisis Dokter Anestesi Terjawab, UNCEN Buka PPDS Pertama di Papua

Sabtu, 28 Feb 2026
Editor: Eky
Rektor Universitas Cenderawasih bersama jajaran pimpinan daerah dan perwakilan Kemdiktisaintek saat peluncuran Program Pendidikan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif di Auditorium Fakultas Kedokteran UNCEN, Jayapura.(Sumber: kemdiktisaintek.go.id)
Dengarkan dgn suara Siap
44K pembaca

JAYAPURA (kabarpublik.id) – Sebuah tonggak penting pembangunan sumber daya manusia kesehatan di Tanah Papua resmi dimulai. Universitas Cenderawasih (UNCEN) meluncurkan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif, Jumat (27/2/2026), di Auditorium Fakultas Kedokteran UNCEN.

Program ini menjadi yang pertama di Papua dan diharapkan mampu menjawab krisis dokter spesialis anestesi yang selama ini menghambat layanan operasi di berbagai rumah sakit.

Hanya 28 Dokter Anestesi untuk 40 RS

Data yang terungkap dalam audiensi sebelum peluncuran menunjukkan, saat ini hanya terdapat 28 dokter anestesi yang melayani lebih dari 40 rumah sakit di empat provinsi di Tanah Papua. Kondisi ini menyebabkan banyak tindakan operasi tertunda dan akses layanan kesehatan menjadi terbatas.

Rektor UNCEN, Oscar Oswald O. Wambrauw, menegaskan komitmen kampusnya untuk memperluas pendidikan spesialis di Papua.

“Kami memulai dengan Anestesiologi dan akan menyusul program spesialis lain. Fokus kami adalah menjawab kebutuhan rumah sakit yang kekurangan tenaga ahli,” tegasnya.

UNCEN juga membuka peluang kerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyediakan kuota khusus bagi putra-putri asli Papua melalui skema beasiswa dan ikatan dinas.

Bagian Program Akselerasi Nasional

Pembukaan PPDS ini merupakan bagian dari program akselerasi nasional yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui pendekatan Sistem Kesehatan Akademik (SKA). Papua termasuk dalam 11 provinsi yang sebelumnya belum memiliki program studi dokter spesialis.

Sekretaris Ditjen Dikti, Setiawan, menegaskan langkah ini selaras dengan visi Indonesia Emas 2045.

“Program ini harus ditindaklanjuti dengan identifikasi putra daerah dan dukungan beasiswa ikatan dinas agar dampaknya berkelanjutan,” ujarnya.

Sebagai universitas pembina, Universitas Gadjah Mada (UGM) akan mendampingi proses pengembangan untuk memastikan mutu lulusan tetap terjaga.

Perwakilan FK-KMK UGM, dr. Sudadi, menyebut pendampingan akademik akan terus dilakukan agar lulusan mampu memenuhi kebutuhan layanan anestesi di rumah sakit Papua.

Dukungan Penuh Pemda Papua

Wakil Gubernur Papua, Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, menyebut pembukaan PPDS ini sebagai langkah strategis dalam mendukung visi Transformasi Papua CERAH (Cerdas, Sejahtera, dan Harmonis).

“Banyak operasi tertunda karena kekurangan dokter anestesi. Kini pendidikan bisa dilakukan di tanah sendiri,” katanya.

Pemerintah daerah juga menyiapkan dukungan beasiswa untuk mahasiswa PPDS agar setelah lulus dapat mengabdi di wilayahnya masing-masing.

No More Posts Available.

No more pages to load.