Kemenhut Intensifkan Penanganan Kayu Sisa Bencana

oleh
oleh
Bencana banjir dan longsor di Sumatera. Ilustrasi
Dengarkan dgn suara Siap
1K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Sejak awal Desember 2025, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengintensifkan penanganan kayu hanyutan dan material sisa bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Upaya ini meliputi pembersihan, pemilahan, pendataan, hingga pemanfaatan kayu secara terpadu bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan terkait.

Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, tim gabungan Kemenhut mengerahkan 28 unit alat berat untuk membersihkan tumpukan kayu yang menghambat akses jalan, permukiman warga, dan fasilitas pendidikan. Hingga hari ke-16 penanganan, Senin (5/1), tercatat 300 batang kayu layak guna dengan volume 469,26 meter kubik.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan menyatakan, penanganan difokuskan pada lokasi yang berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat.

“Prioritas kami adalah membuka akses jalan, permukiman, dan fasilitas umum. Kayu yang masih bernilai guna kami pilah dan data agar dapat dimanfaatkan secara tertib untuk kebutuhan darurat warga,” ujarnya.

Pemanfaatan kayu sisa bencana tersebut telah mendukung pembangunan hunian sementara (huntara). Saat ini, dua unit huntara masih dalam proses pembangunan dan satu unit telah selesai.

Sementara itu, di Sumatera Utara, penanganan pascabencana dipusatkan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, Kabupaten Tapanuli Selatan. Tim gabungan mengerahkan 20 unit alat berat dan 10 unit dump truck untuk pemilahan kayu, normalisasi Sungai Garoga, pembersihan rumah warga, serta penataan lingkungan.

Sejumlah segmen pemilahan kayu bahkan telah rampung 100 persen sesuai peta kerja.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menjelaskan bahwa penanganan dilakukan seiring penyiapan hunian bagi warga terdampak.

“Selain pembersihan dan pemilahan kayu, kami mendukung penyiapan lahan untuk huntara dan hunian tetap. Kayu yang terdata akan dimanfaatkan untuk kebutuhan darurat masyarakat sesuai ketentuan,” katanya.

Hasil pengukuran sementara di wilayah Garoga mencatat 426 batang kayu bulat dengan volume 253,85 meter kubik, serta kayu gergajian sebanyak 154 keping dengan volume 4,236 meter kubik.

Adapun di Sumatera Barat, Kemenhut melalui UPT setempat bersama KPH dan Dinas Kehutanan Provinsi melakukan identifikasi dan pendataan kayu hanyutan di Pantai Padang serta di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Kuranji dan Sungai Air Dingin.

Kepala BKSDA Sumatera Barat, Hartono, menyampaikan bahwa proses pendataan masih berlangsung.

“Saat ini kami masih menghitung jumlah dan jenis kayu hanyutan di beberapa lokasi. Data ini akan menjadi dasar pemanfaatan kayu sisa bencana setelah tim pemanfaatan ditetapkan melalui keputusan gubernur,” jelas Hartono.

Kemenhut menegaskan penanganan pascabencana akan terus dilanjutkan dengan pembaruan data secara berkala. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pemanfaatan kayu sisa bencana berjalan tertib, transparan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat terdampak.

No More Posts Available.

No more pages to load.