JAKARTA (kabarpublik.id) – Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai kenaikan harga minyak mentah global kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed sehingga investor cenderung mengambil posisi lebih defensif.
“Kondisi tersebut menekan risk appetite (selera risiko) terhadap emerging market, termasuk Indonesia,” ujar Elandry saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin (14/9).
Menurut dia, di tengah tekanan sentimen global, investor asing juga memperhatikan sejumlah faktor domestik, seperti stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan ekonomi, kinerja emiten, serta perkembangan evaluasi indeks global, termasuk MSCI.
Elandry mengatakan aksi jual bersih atau foreign sell yang terjadi di pasar saham Indonesia tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional. Menurut dia, arus keluar dana asing juga merupakan bagian dari penyesuaian alokasi aset global.
“Foreign sell bukan semata-mata mencerminkan fundamental Indonesia, tetapi juga bagian dari penyesuaian asset allocation global,” katanya.
Ia menilai net sell yang masih terjadi menunjukkan investor asing tetap selektif dalam menempatkan dananya di pasar saham Indonesia.
Secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp98,2 triliun hingga 11 September. Padahal, investor asing sempat membukukan net buy pada Agustus dan awal September 2026.
Namun, pada 7–11 September 2026, investor asing kembali mencatatkan net sell sekitar Rp3,36 triliun.
“Jadi, sebenarnya minat asing belum sepenuhnya hilang, tetapi capital flow masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global,” ujar Elandry.
Aliran Dana Asing Masih Fluktuatif
Untuk sisa 2026, Elandry memperkirakan aliran dana asing atau foreign flow masih berpotensi bergerak fluktuatif dan belum langsung berubah menjadi arus masuk (inflow) secara konsisten.
Dalam jangka pendek, volatilitas pasar saham diperkirakan masih tinggi karena investor akan mencermati arah kebijakan suku bunga global, pergerakan harga minyak, kondisi geopolitik, serta nilai tukar dolar AS.
Meski demikian, peluang investor asing kembali melakukan akumulasi tetap terbuka apabila tekanan eksternal mulai mereda dan stabilitas ekonomi domestik terjaga.
Menurut Elandry, saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang likuid dan memiliki fundamental kuat berpotensi menjadi pilihan investor asing.
“Jadi, fase berikutnya kemungkinan lebih berupa selective inflow terlebih dahulu sebelum berkembang menjadi capital inflow yang lebih luas,” katanya.
Elandry menjelaskan, arus dana asing berpeluang kembali masuk secara lebih konsisten apabila ketidakpastian global mereda. Kondisi itu antara lain ditandai dengan harga minyak yang lebih stabil, tekanan inflasi yang menurun, serta arah kebijakan The Fed yang semakin jelas.
Dari sisi domestik, penguatan rupiah, fundamental ekonomi yang terjaga, pertumbuhan laba emiten, serta valuasi saham big caps yang menarik dapat menjadi katalis positif bagi pasar saham Indonesia.
“Kita sebenarnya sudah sempat melihat asing kembali melakukan net buy pada Agustus 2026. Artinya, ketika market sentiment membaik, Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor global,” ujar Elandry.
Sementara itu, berdasarkan data perdagangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (14/9) pukul 15.10 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 133,11 poin atau 2,03 persen ke level 6.408,27.
Frekuensi transaksi tercatat mencapai sekitar 1,75 juta kali, dengan volume perdagangan sebanyak 25,52 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp11,77 triliun.




