News Update
Live Update Berita Terkini

IHSG Melemah Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Senin, 14 Sep 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Ilustrasi: Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 setelah seharian berkutat di zona merah pada rentang 5.841-6.213. ANTARA FOTO
Dengarkan dgn suara Siap
6.7K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah pada awal perdagangan Senin seiring sikap investor yang cenderung menunggu keputusan kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, pekan ini.

IHSG dibuka turun 7,51 poin atau 0,11 persen ke level 6.533,87. Sementara itu, indeks LQ45 yang mengukur kinerja 45 saham unggulan melemah 0,74 poin atau 0,11 persen menjadi 648,98.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan pergerakan IHSG masih akan dipengaruhi sentimen global, terutama keputusan The Fed dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026.

“Apabila IHSG gagal bertahan di 6.530, koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.425, dengan support berikutnya di 6.377,” kata Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Sebaliknya, apabila IHSG mampu kembali menguat dan menembus level 6.592, indeks berpeluang bergerak menuju 6.723. Level 6.859 menjadi resistance berikutnya.

Dari pasar global, investor mencermati perkembangan inflasi AS yang masih menunjukkan tekanan harga. Inflasi headline AS tercatat 3,4 persen pada Agustus 2026.

Sentimen pasar juga terpengaruh penurunan indeks kepercayaan konsumen University of Michigan menjadi 47,8 pada September 2026 dari 51,7 pada Agustus. Angka tersebut juga berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 51,0.

“Penurunan utamanya dipicu oleh kenaikan harga bensin dan ketegangan perdagangan yang meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya hidup,” ujar Liza.

Ekspektasi inflasi konsumen AS untuk 12 bulan ke depan meningkat menjadi 4,6 persen dari 4,0 persen. Sementara ekspektasi inflasi lima tahun naik menjadi 3,4 persen dari sebelumnya 3,3 persen.

“Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed pekan ini,” katanya.

Risiko Geopolitik Masih Membayangi Pasar

Selain kebijakan moneter AS, investor masih mencermati risiko geopolitik yang berkaitan dengan konflik AS dan Iran. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan energi di kawasan Teluk Persia.

Namun, sentimen sedikit membaik setelah media pemerintah Iran melaporkan adanya rencana pertemuan antara Teheran dan negara-negara Teluk di Oman untuk membahas isu Selat Hormuz.

“Perkembangan tersebut membantu meredakan tekanan pada harga minyak setelah reli tajam sepanjang pekan,” ujar Liza.

Sentimen Domestik

Dari dalam negeri, penerimaan pajak hingga Agustus 2026 diperkirakan mencapai Rp1.409,1 triliun atau sekitar 59,8 persen dari target APBN 2026. Meski demikian, realisasi tersebut tumbuh 24,1 persen secara tahunan.

Dengan capaian tersebut, pemerintah masih perlu mengejar sekitar 40,2 persen dari target penerimaan pajak dalam empat bulan terakhir 2026.

Pengamat Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) menilai target penerimaan pajak tersebut cukup tinggi karena pemerintah membutuhkan tambahan sekitar Rp440 triliun dibandingkan realisasi pada 2025.

Potensi kekurangan penerimaan pajak juga diperkirakan berada di kisaran Rp80–140 triliun apabila restitusi pajak yang tertahan masih berlanjut.

“Kondisi ini berpotensi menekan arus kas dunia usaha dan menghambat aktivitas ekonomi serta penciptaan lapangan kerja,” kata Liza.

Sementara itu, ekspektasi pelaku usaha terhadap kondisi makroekonomi pada kuartal III-2026 turut melemah. Hal tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) yang turun menjadi 28 dari 37 pada kuartal sebelumnya dan masuk zona pesimistis.

“Pelaku usaha memperkirakan pertumbuhan ekonomi lebih moderat setelah berakhirnya faktor musiman seperti Ramadhan, Idul Fitri, dan libur sekolah,” ujarnya.

Tekanan terhadap perekonomian juga berasal dari potensi pelemahan rupiah dan peningkatan inflasi akibat kenaikan harga energi global, penyesuaian harga BBM nonsubsidi, depresiasi rupiah, serta risiko El Nino terhadap harga pangan.

“Kondisi tersebut meningkatkan potensi kenaikan BI-Rate secara pre-emptive untuk menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi, sementara aktivitas manufaktur masuk ke zona kontraksi dengan PMI turun menjadi 49 pada Agustus 2026,” kata Liza.

Bursa Global dan Asia

Bursa Eropa ditutup menguat pada perdagangan Jumat (11/9). Euro Stoxx 50 naik 0,90 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,39 persen, DAX Jerman naik 0,80 persen, dan CAC 40 Prancis bertambah 0,78 persen.

Wall Street juga berakhir positif. Indeks S&P 500 naik 0,86 persen ke level 7.656,98, Nasdaq Composite menguat 0,96 persen menjadi 26.333,04, dan Dow Jones Industrial Average naik 0,98 persen ke level 52.573,29.

Sementara itu, bursa saham Asia bergerak beragam pada Senin pagi. Nikkei Jepang melemah 0,85 persen ke 63.465,00, Shanghai menguat 0,05 persen ke 3.886,25, Kospi Korea Selatan turun 2,21 persen ke 6.757,46, Hang Seng Hong Kong melemah 0,35 persen ke 24.719,00, sedangkan Straits Times Singapura naik 0,29 persen menjadi 5.522,98.

No More Posts Available.

No more pages to load.