JAKARTA (kabarpublik.id) – Pengamat pertanian dari IPB University, Prima Gandhi, mengapresiasi langkah pemerintah Republik Indonesia yang mengekspor perdana sebanyak 2.280 ton beras ke Arab Saudi pada 2026. Ekspor ini dilakukan di tengah dinamika konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menurut Gandhi, ekspor tersebut menjadi catatan penting dalam perjalanan Indonesia menuju swasembada pangan sekaligus menunjukkan keberlanjutan program peningkatan produksi pertanian pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Ekspor ini menjadi bukti bahwa swasembada beras Indonesia bukan hanya bersifat sementara, tetapi berjalan secara berkelanjutan dan produktif,” ujar Gandhi, Kamis (5/3/26).
Ia menilai ekspor beras memiliki nilai strategis bagi ketahanan pangan nasional sekaligus keseimbangan perdagangan Indonesia. Saat ini, Indonesia dinilai menunjukkan kemajuan signifikan dalam produksi dan pengelolaan stok beras.
Menurutnya, cadangan beras nasional bahkan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. Dengan kondisi stok yang aman, peluang ekspor dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
“Lompatan produksi kita jauh di atas rata-rata. Jika stok dan pasokan dalam negeri tetap terjaga, maka ekspor bisa menjadi strategi untuk meningkatkan peran Indonesia di pasar internasional,” katanya.
Gandhi menambahkan, pencapaian tersebut tidak lepas dari sinergi kebijakan pemerintah dan kerja keras Kementerian Pertanian dalam meningkatkan kapasitas produksi secara terukur, masif, dan berbasis teknologi.
Ia berharap ekspor perdana ini dapat menjadi awal bagi peningkatan ekspor komoditas pangan Indonesia di masa mendatang, dengan tetap menjaga kebutuhan dalam negeri sebagai prioritas utama.
“Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara pasokan nasional dan peluang ekspor. Jika hal itu terjaga, maka ekspor akan menjadi simbol kemandirian pangan sekaligus daya saing bangsa,” tegasnya.
Selain ekspor beras, pemerintah juga melepas ekspor produk unggas sebanyak 545 ton dengan nilai Rp18,2 miliar ke Singapura, Jepang, dan Timor Leste. Pengiriman dilakukan secara bertahap hingga 31 Maret 2026.
Langkah ini sekaligus memperkuat posisi industri perunggasan nasional yang telah mencapai swasembada ayam dan telur, serta mulai memperluas pasar ke tingkat internasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia telah mencapai kemandirian produksi pada sejumlah komoditas strategis yang kini diarahkan untuk memperkuat ekspor.
“Saat ini kita sudah swasembada telur, ayam, beras, dan beberapa komoditas lainnya. Ekspor ini membuktikan bahwa sektor pertanian Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mulai berkontribusi pada ekonomi global,” ujar Amran.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional yang berdaya saing tinggi, berkelanjutan, dan berorientasi ekspor.






