BEKASI (kabarpublik.id) – Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, memaparkan visi, misi, serta program prioritas pembangunan Kota Bekasi periode 2025–2030 saat wawancara eksklusif bersama kabarpublik.id, Selasa (24/2/26).
Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan arah kebijakan Pemerintah Kota Bekasi bersama Wali Kota Tri Adhianto untuk lima tahun ke depan.
Visi: Bekasi Keren, Nyaman dan Sejahtera
Abdul Harris Bobihoe menegaskan, visi kepemimpinan mereka adalah menjadikan Kota Bekasi sebagai kota yang “keren”, yakni kota yang nyaman dan masyarakatnya sejahtera.
“Visi kami bersama adalah menghadirkan Kota Bekasi yang nyaman dari sisi infrastruktur, pelayanan publik, hingga kehidupan sosial yang harmonis,” ujarnya.
Visi tersebut diwujudkan melalui sejumlah program unggulan, antara lain:
– Kobe Hijau (Kota Bekasi Hijau)
Pemerintah menargetkan pembangunan dan revitalisasi ruang terbuka hijau serta taman kota guna menyediakan ruang interaksi dan rekreasi bagi masyarakat.
– Kobe Sehat (Kota Bekasi Sehat)
Penguatan layanan kesehatan dilakukan melalui optimalisasi puskesmas dan RSUD agar akses layanan semakin cepat, mudah, dan merata.
– Kobe Cerdas (Kota Bekasi Cerdas/Smart City)
Peningkatan kualitas pendidikan menjadi prioritas, termasuk pembenahan sarana prasarana sekolah, peningkatan kesejahteraan guru, serta pengembangan sistem pembelajaran berbasis teknologi.
Ia menambahkan, Bekasi sebagai kota yang heterogen dengan keberagaman suku, budaya, dan agama harus menjadikan pluralitas tersebut sebagai kekuatan untuk membangun kohesi sosial yang kuat dan berdaya saing global.
Program Prioritas dan Iklim Investasi
Dalam sektor pembangunan, Pemkot Bekasi fokus pada tiga aspek utama, yakni kesehatan, lingkungan, dan investasi.
Di bidang lingkungan, pemerintah
menargetkan pembangunan hingga 1.000 taman dan ruang terbuka hijau. Sementara di sektor investasi, program “Kobe Menarik” disiapkan untuk menciptakan kemudahan perizinan serta iklim usaha yang kondusif guna menarik investor masuk ke Bekasi.
“Kolaborasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi juga terus kami lakukan untuk mengatasi keterbatasan anggaran daerah,” katanya.
Strategi Transportasi dan Hunian Terintegrasi
Sebagai kota penyangga Jakarta, Bekasi menghadapi tantangan mobilitas tinggi. Untuk itu, strategi yang ditempuh adalah memperkuat transportasi massal seperti LRT dan TransJabodetabek, serta mendorong pembangunan hunian vertikal (rumah susun) yang terintegrasi dengan moda transportasi publik.
Kerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga dilakukan, termasuk dalam hal subsidi tarif transportasi guna mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan menekan kemacetan.
Selain itu, pembangunan flyover di sejumlah titik perlintasan kereta api menjadi solusi untuk mengurai kepadatan lalu lintas.
Penanganan Banjir dan Normalisasi Sungai
Terkait persoalan banjir, Abdul Harris Bobihoe menjelaskan bahwa secara geografis Kota Bekasi berada di wilayah rendah dan dilintasi beberapa sungai, seperti Kali Bekasi dan Kali Cikeas. Kondisi ini menyebabkan peningkatan volume air saat hujan deras terjadi di wilayah hulu.
Langkah yang dilakukan antara lain membangun polder sebagai tempat penampungan air sementara agar tidak menggenangi permukiman warga, serta melakukan normalisasi sungai.
Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas wilayah dengan Pemerintah Kabupaten Bekasi dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar aliran air dapat mengalir lancar hingga ke hilir.
Tantangan Pembangunan
Ia mengakui, keterbatasan lahan menjadi tantangan utama, khususnya dalam pembangunan polder dan infrastruktur pendukung lainnya. Pemerintah harus memanfaatkan fasilitas umum dari pengembang atau melakukan pembelian lahan.
Selain faktor alam, tantangan lainnya adalah mengubah pola pikir masyarakat agar beralih ke transportasi umum demi mendukung kelancaran mobilitas di Kota Bekasi.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Pembangunan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat,” tegasnya.
Dengan berbagai program dan strategi tersebut, Pemerintah Kota Bekasi optimistis mampu mewujudkan kota yang lebih nyaman, sehat, hijau, dan berdaya saing dalam lima tahun ke depan.





