Breaking News
Live Update Berita Terkini

UNPRI Bekali Mahasiswa Mandarin Keterampilan Komunikasi Lintas Budaya untuk Dunia Kerja Global

Minggu, 14 Jun 2026
Editor: Eky
Praktisi komunikasi Wendelyn Leo saat menghadiri workshop bertajuk "Beyond Translation: How Language, Communication, and Public Speaking Shape Reputation" yang diikuti mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional Universitas Prima Indonesia (UNPRI), Jumat (12/6). (Sumber Foto: Yoga)
Dengarkan dgn suara Siap
2.6K pembaca

MEDAN (kabarpublik.id) – Kemampuan berbahasa Mandarin saja tidak lagi menjadi jaminan sukses di dunia kerja global. Di tengah semakin eratnya hubungan Indonesia dan Tiongkok, generasi muda dituntut memiliki keterampilan komunikasi lintas budaya yang mampu menjembatani perbedaan cara berpikir, perspektif, dan budaya komunikasi.

Hal tersebut disampaikan praktisi komunikasi Wendelyn Leo dalam workshop bertajuk “Beyond Translation: How Language, Communication, and Public Speaking Shape Reputation” yang diikuti mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional Universitas Prima Indonesia (UNPRI), Jumat (12/6).

Dalam paparannya, Wendelyn menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam komunikasi lintas budaya bukan sekadar penguasaan bahasa, melainkan kemampuan memahami konteks dan ekspektasi dari berbagai pihak yang terlibat.

“Banyak yang menganggap kemampuan bahasa adalah tujuan akhir. Padahal, di dunia profesional bahasa hanyalah alat. Yang terpenting adalah bagaimana bahasa digunakan untuk membangun pemahaman, kepercayaan, dan hubungan yang baik di antara pihak-pihak dengan latar belakang berbeda,” ujarnya.

Wendelyn yang pernah berkarier sebagai jurnalis sebelum terjun ke dunia komunikasi korporat menjelaskan bahwa pilihan kata dan cara menyampaikan pesan dapat memengaruhi citra individu maupun organisasi.

Melalui sejumlah studi kasus internasional, peserta diajak memahami proses penyusunan strategi komunikasi, mulai dari merumuskan pesan utama, mengenali target audiens, membaca tren, membangun narasi, hingga menciptakan hubungan yang kuat dengan publik.

Menurutnya, mahasiswa bahasa Mandarin memiliki peluang besar untuk berperan sebagai penghubung antara Indonesia dan Tiongkok karena memahami dua lingkungan budaya yang berbeda.

“Peran kalian bukan hanya menerjemahkan bahasa. Kalian juga dapat menjadi jembatan yang membantu kedua pihak memahami pola pikir, gaya komunikasi, dan harapan yang berbeda. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan dalam dunia kerja saat ini,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional UNPRI, Mei Lisa, B.Ed., MTCSOL, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kompetensi mahasiswa di luar kemampuan kebahasaan.

Menurutnya, penguasaan bahasa harus dibarengi keterampilan komunikasi yang efektif agar pesan dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Bahasa adalah alat, tetapi komunikasi adalah dampaknya. Seseorang bisa saja fasih berbahasa Mandarin, namun tanpa kemampuan komunikasi yang baik, pesan yang disampaikan berpotensi kurang efektif atau bahkan menimbulkan miskomunikasi,” ujarnya.

Mei Lisa menambahkan, lulusan bahasa Mandarin memiliki peran strategis sebagai penghubung budaya antara Indonesia dan Tiongkok. Mereka tidak hanya menerjemahkan bahasa, tetapi juga membantu menjelaskan makna, nilai, dan cara berpikir yang berbeda guna mendukung kerja sama lintas budaya yang lebih efektif.

No More Posts Available.

No more pages to load.