News Update
Live Update Berita Terkini

Unas Gelar Konferensi Internasional Bahas Perdamaian Dunia dan Isu Global

Rabu, 12 Nov 2025
Editor: Eky
International Conference on Global Issues (ICGI) 2025 di Auditorium UNAS, Jakarta, Rabu (12/11/25). (dok. kabarpublik)
Dengarkan dgn suara Siap
33.6K pembaca

JAKARTA (kabarpublik) – Universitas Nasional (Unas) menggelar International Conference on Global Issues (ICGI) 2025 di Auditorium Unas, Jakarta, Rabu (12/11/25).

Konferensi internasional tahunan ini menjadi forum penting bagi akademisi, diplomat, pembuat kebijakan, dan mahasiswa dari berbagai negara untuk membahas dinamika geopolitik global serta mencari solusi kolaboratif dalam menciptakan perdamaian dunia.

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026

Keterangan foto: Poster peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober.

Dengan mengusung tema “Future of World: Making Peace Against All Odds”, ICGI 2025 menghadirkan diskusi lintas bidang mengenai keamanan internasional, diplomasi global, serta inovasi dalam membangun perdamaian berkelanjutan. Ketua Pelaksana ICGI 2025, Dr. Robi Nurhadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wadah bagi akademisi dan generasi muda untuk memperkuat kontribusi terhadap stabilitas dunia.

“Banyak tantangan dan potensi konflik yang muncul di dunia saat ini. Melalui forum ini, kami ingin membangun kembali semangat perdamaian dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas negara,” ujar Dr. Robi.

Ia menegaskan bahwa perdamaian bukan hanya tanggung jawab para pemimpin politik, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk akademisi, mahasiswa, media, dan masyarakat sipil.

Konferensi yang telah memasuki tahun kedua ini dihadiri oleh sejumlah duta besar, tokoh militer, dan akademisi dari berbagai negara, di antaranya Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato’ Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin, Duta Besar Turki Prof. Dr. Talip Küçükçan, Guru Besar UNAS sekaligus mantan Dubes Indonesia untuk Ukraina Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, serta Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim, Prof. Dr. Makmor bin Tumin (Universiti Kebangsaan Malaysia), dan Dr. Tufan Kutay Boran (Social Sciences University of Ankara).

Dalam pidatonya, Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi menekankan perlunya kolaborasi global yang berlandaskan etika dan realisme politik untuk membangun dunia yang damai. Ia menyoroti lemahnya peran lembaga internasional seperti PBB dan G20 dalam menghadapi konflik global, serta mengusulkan lima langkah strategis menuju perdamaian dunia, antara lain: Reformasi Dewan Keamanan PBB agar lebih representatif, Perlucutan senjata nuklir melalui komite independen, Penguatan kerja sama global dalam restorasi ekologi dan SDGs, Diplomasi aktif oleh negara netral untuk menjembatani konflik, dan Kolaborasi ekonomi dan keamanan antara AS dan Tiongkok.

“Indonesia memiliki peran penting dalam diplomasi global yang netral dan konstruktif. Ini bisa menjadi model penyelesaian konflik dunia,” tegas Prof. Yuddy.

Duta Besar Malaysia, Dato’ Syed Mohamad Hasrin, menegaskan bahwa perdamaian sejati hanya dapat terwujud melalui keadilan dan kemanusiaan. Ia menyoroti pentingnya multilateralisme, diplomasi budaya, dan pendidikan lintas agama dalam membangun kepercayaan antarbangsa.

“Perdamaian bukan keadaan pasif, melainkan tindakan moral aktif untuk menegakkan keadilan dan empati,” ujarnya.

Sementara itu, Duta Besar Turki Prof. Dr. Talip Küçükçan menilai bahwa dunia saat ini menghadapi lebih dari 100 titik konflik akibat ketimpangan sosial dan hilangnya keadilan. Ia menegaskan perlunya reformasi sistem internasional dan mendorong generasi muda untuk berperan aktif membangun perdamaian.

“Kemanusiaan memiliki nasib yang sama. Perdamaian tidak lahir dari perpecahan, tetapi dari kerja sama antarperadaban,” tutur Prof. Küçükçan.

Dalam sesi bertajuk “From Defense to Diplomacy”, Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim menekankan pentingnya transformasi militer menjadi instrumen diplomasi perdamaian. Menurutnya, kemenangan sejati bukan mengalahkan musuh, melainkan mencegah konflik melalui kebijakan yang bijak dan beretika.

Akademisi Turki, Dr. Tufan Kutay Boran, mengangkat konsep smart balancing sebagai strategi diplomasi Indonesia di tengah rivalitas global. Ia memuji peran Indonesia sebagai kekuatan menengah (middle power) yang mampu menyeimbangkan kepentingan tanpa berpihak pada kekuatan besar mana pun.

Sementara itu, Prof. Dr. Makmor bin Tumin dari Universiti Kebangsaan Malaysia membahas keseimbangan antara kosmopolitanisme dan nasionalisme. Ia menyebut bahwa keduanya harus berjalan beriringan demi menjaga identitas bangsa di tengah arus globalisasi.

“Patriotisme sejati adalah bentuk cinta tanah air yang beretika dan terbuka terhadap kemanusiaan universal,” jelas Prof. Makmor.

Melalui ICGI 2025, Universitas Nasional menegaskan komitmennya menjadi pusat dialog lintas negara yang memajukan nilai-nilai perdamaian, keadilan, dan kerja sama global.

No More Posts Available.

No more pages to load.