News Update
Live Update Berita Terkini

Peran Musik sebagai Ruang Memahami Emosi

Minggu, 11 Okt 2026
Editor: Jamalul Insan
Peserta meminum air nira saat mendengarkan musik tradisional menggunakan penyuara jemala saat Diseminasi Musik Terapi Laras Jiwa di Kebon Djati Eatry, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (22/1/2026). Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Yayasan Asta Mekar menggelar terapi berbasis seni tradisional Sunda dengan memainkan alat musik secara langsung untuk membantu meredakan kecemasan dan meningkatkan kesehatan mental melalui pendekatan budaya lokal. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nym.
Dengarkan dgn suara Siap
1.8K pembaca
JAKARTA  (Kabarpublik.id) – Psikolog klinis dewasa lulusan Universitas Padjajaran Larasati Margaretha Soetrisno, M.Psi., Psikolog mengatakan musik memiliki peran sebagai ruang untuk mengenali perasaan, mengekspresi emosi dan menjaga kesehatan mental.

Mengutio penelitian dari Chemnitz University of Technology di Jerman, Larasati menyampaikan peran pertama yang dimiliki musik berkaitan dengan fungsi psikologis, yakni orang mendengarkan musik bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk mengatur suasana hati, memahami diri sendiri, dan merasa terhubung dengan orang lain.

“Tidak semua orang bisa mengenali dan menjelaskan emosinya, sehingga ketika mendengar lagu tertentu, lirik, nada, atau instrumennya dapat merepresentasikan apa yang sedang dirasakan. Musik membantu seseorang menemukan bentuk dari perasaan yang sebelumnya sulit dijelaskan,” kata Larasati dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu.

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026

Keterangan foto: Poster peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober.

Musik dapat membantu seseorang menemukan representasi dari perasaan yang sebelumnya sulit dijelaskan. Hal ini menjadi penting karena kemampuan mengenali emosi merupakan fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental.

Peran musik berikutnya adalah menjadi sarana mengekspresikan emosi. Penelitian yang diterbitkan dalam Psychology of Music menunjukkan adanya manfaat aktivitas bermusik, termasuk mendengarkan, memainkan, dan menciptakan musik, dalam membantu regulasi emosi.

Dia menyebut mendengarkan musik dapat membantu seseorang merasa terwakili atau merasa bahwa ada sesuatu yang merepresentasikan perasaannya. Sementara bernyanyi, memainkan musik, atau menulis lagu bisa menjadi bentuk mengekspresikan emosi dan melepaskan stres.

Salah satu contohnya seperti musisi YE yang akan menggelar konser “YE Live in Jakarta” di Gelora Bung Karno, Jakarta pada 24 Oktober 2026. Melalui lagu seperti “Ghost Town”, YE mengangkat tema pergulatan emosional, kerentanan, dan keinginan untuk menemukan kebebasan. Sementara dalam “Reborn” menceritakan pengalaman menghadapi masa sulit, menemukan kembali harapan, dan terus bergerak maju.

Lebih lanjut sebuah lagu, katanya, dapat membawa seseorang merasakan apa yang dialami oleh orang lain. Dengan demikian, musik dapat menciptakan koneksi emosional dan membuat seseorang merasa lebih dipahami.

Menurutnya secara psikologis, manusia punya kebutuhan untuk didengarkan dan dipahami.

Larasati menilai musik dapat menjadi salah satu bentuk coping untuk menghadapi tekanan atau situasi yang terasa berat. Secara sederhana, coping merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk merasa lebih nyaman atau tenang ketika sedang menghadapi stres, meski manfaat tersebut memiliki batas.

“Musik dapat menjadi bagian dari coping, tetapi sifatnya sementara. Musik bisa membantu kita bertahan pada saat itu, tetapi masalah yang mendasarinya belum tentu selesai. Jika memang membutuhkan bantuan profesional, tetap penting untuk mencarinya,” ucap dia.

Terakhir, Larasati mengatakan musik juga bisa membantu mengenali waktu untuk mencari dukungan profesional. Ada empat tanda yang dikenal sebagai “4D” dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait hal ini.

Keempat tanda itu adalah bila merasa tekanan emosi terasa berat dan berkepanjangan (Distress), pikiran dan perilaku berbeda dari norma yang berlaku (Deviance), kondisi mulai mengganggu aktivitas dan peran sehari-hari (Dysfunction), dan munculnya pikiran atau perilaku yang berbahaya bagi diri sendiri dan lingkungan (Danger).

Jika kondisi tersebut mulai mengganggu keseharian, konsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat membantu seseorang mendapatkan dukungan yang sesuai. (ant)

 

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.