JAKARTA (kabarpublik.id) – Kehadiran John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia dan kembalinya Shin Tae-yong ke sepak bola nasional bersama Persija Jakarta diprediksi akan menjadi salah satu dinamika paling menarik dalam perkembangan sepak bola Indonesia beberapa tahun ke depan.
Meski berasal dari latar belakang berbeda dan belum tentu saling mengenal secara dekat, keduanya memiliki satu kesamaan, yakni pernah dipercaya menangani Timnas Indonesia. Shin kini melanjutkan karier di level klub bersama Persija, sementara Herdman memikul tanggung jawab sebagai arsitek baru skuad Garuda.
Perbandingan antara keduanya hampir tak terelakkan. Namun, rivalitas tersebut justru dapat menjadi pemicu peningkatan kualitas sepak bola nasional, baik di level klub maupun tim nasional.
Shin telah meninggalkan warisan penting dengan membawa Timnas Indonesia menembus fase gugur Piala Asia untuk pertama kalinya. Di sisi lain, Herdman datang dengan rekam jejak internasional yang mentereng setelah sukses bersama Kanada serta pengalaman melatih tim nasional Selandia Baru di berbagai level.
Kini perhatian publik tertuju pada bagaimana Herdman membangun identitas permainan Timnas Indonesia, termasuk dalam menentukan strategi, filosofi bermain, dan pemilihan pemain.
FIFA ASEAN Cup Jadi Ujian Awal Herdman
Meski gagal memenuhi ekspektasi pada Piala ASEAN 2026, Herdman masih memiliki sejumlah kesempatan untuk membuktikan kualitasnya. Salah satu ajang terdekat adalah FIFA ASEAN Cup 2026 yang akan berlangsung di Indonesia pada 23 September hingga 3 Oktober 2026.
Turnamen ini menjadi sorotan karena berada di bawah naungan FIFA, berbeda dengan Piala AFF yang selama ini diselenggarakan oleh federasi sepak bola Asia Tenggara. Status tersebut membuka peluang bagi negara peserta untuk memanggil pemain yang berkarier di luar negeri selama agenda pertandingan internasional berlangsung.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri. Herdman berpeluang memanggil pemain-pemain utama yang bermain di Eropa, seperti Jay Idzes, Calvin Verdonk, Maarten Paes, hingga Emil Audero.
Jika mampu memaksimalkan potensi tersebut, FIFA ASEAN Cup dapat menjadi panggung pertama bagi Herdman untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai pelatih yang mampu membawa Indonesia bersaing di level lebih tinggi.
Pantau Ketat Kompetisi Domestik
Menjelang turnamen tersebut, Herdman diperkirakan akan aktif memantau jalannya Super League 2026/2027 yang dimulai pada 4 September. Puluhan pertandingan awal kompetisi domestik menjadi kesempatan untuk menilai performa pemain lokal yang layak mendapat panggilan ke tim nasional.
Kebebasan dalam memilih pemain menjadi faktor penting bagi Herdman untuk membentuk skuad sesuai kebutuhan taktik dan filosofi bermain yang diusungnya.
Selain pemain lokal, pelatih asal Kanada itu juga dapat memantau para pemain Indonesia yang berkarier di kompetisi Eropa seperti Eredivisie Belanda, Bundesliga Jerman, Serie A Italia, maupun liga-liga lainnya.
Dengan komposisi pemain terbaik yang tersedia, Timnas Indonesia berpeluang tampil lebih kompetitif dibandingkan skuad yang tampil pada Piala ASEAN sebelumnya.
Piala Asia 2027 Jadi Tolak Ukur
Setelah FIFA ASEAN Cup, tantangan berikutnya bagi Herdman adalah Piala Asia 2027 yang akan berlangsung di Arab Saudi pada Januari hingga Februari 2027.
Indonesia tergabung di Grup F bersama Jepang, Qatar, dan Thailand. Grup ini menjadi ujian berat bagi skuad Garuda untuk mengulang atau bahkan melampaui pencapaian bersejarah pada Piala Asia 2023.
Apabila mampu membawa Indonesia lolos ke fase gugur, Herdman akan menyamai pencapaian Shin Tae-yong yang sukses mengantar Timnas Indonesia menembus babak knockout untuk pertama kalinya dalam sejarah keikutsertaan di Piala Asia.
Kontrak Herdman yang berlaku hingga 2027 juga membuka peluang baginya untuk melanjutkan proyek jangka panjang bersama Timnas Indonesia apabila mampu menunjukkan hasil positif.
Rivalitas yang Sehat untuk Kemajuan Sepak Bola
Persaingan tidak langsung antara Herdman dan Shin Tae-yong seharusnya dipandang sebagai energi positif bagi perkembangan sepak bola Indonesia. Keduanya memiliki pendekatan, pengalaman, dan filosofi berbeda yang dapat memperkaya kualitas kompetisi nasional.
Publik tentu akan terus membandingkan capaian kedua pelatih tersebut. Namun pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan sekadar siapa yang lebih unggul, melainkan sejauh mana kontribusi mereka dalam meningkatkan kualitas Timnas Indonesia dan kompetisi domestik.
Dukungan, evaluasi, serta kritik yang konstruktif tetap diperlukan. Namun, ruang dan kepercayaan bagi para pelatih untuk bekerja sesuai visi mereka juga menjadi faktor penting dalam menciptakan ekosistem sepak bola nasional yang sehat dan kompetitif.





