MAKASSAR (kabarpublik.id) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengimbau masyarakat Sulawesi Selatan tetap waspada terhadap potensi dampak lanjutan pascagempa berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) dan turut dirasakan di sejumlah wilayah Sulsel.
Koordinator Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar, Jamroni, mengatakan peringatan dini tsunami telah resmi berakhir sehingga masyarakat yang sempat mengungsi dapat kembali ke rumah masing-masing. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat masih terjadi aktivitas gempa susulan.
“Peringatan dini tsunami sudah dinyatakan berakhir. Masyarakat sudah bisa kembali ke rumah masing-masing, namun tetap harus waspada terhadap perkembangan situasi,” ujar Jamroni di Makassar, Sabtu (15/8).
Gempa Susulan Capai 82 Kali
BMKG mencatat hingga saat ini telah terjadi 82 kali gempa susulan setelah gempa utama mengguncang wilayah NTT. Namun, kekuatan gempa susulan tersebut terus menurun dan belum menunjukkan indikasi peningkatan signifikan.
Menurut Jamroni, pola yang terjadi pascagempa umumnya menunjukkan penurunan energi secara bertahap sehingga diharapkan tidak terjadi gempa yang lebih besar.
“Gempa susulan masih terjadi, tetapi magnitudonya semakin kecil. Berdasarkan model yang ada, kekuatannya cenderung menurun,” katanya.
Tsunami Kecil Sempat Terdeteksi
BMKG juga mengonfirmasi adanya perubahan muka air laut yang memicu tsunami kecil di sejumlah wilayah. Di Sulawesi Selatan, fenomena tersebut terpantau di Pulau Jampea, Kabupaten Kepulauan Selayar, Bulukumba, dan beberapa daerah lainnya.
Ketinggian gelombang yang tercatat sekitar 0,5 meter atau masuk kategori status waspada. Kondisi tersebut tidak berkembang menjadi tsunami besar sehingga peringatan dini dihentikan setelah dua jam pemantauan.
“Ada perubahan tinggi muka air laut yang menunjukkan tsunami kecil sempat terjadi. Namun, setelah pemantauan lebih lanjut, kondisi dinyatakan aman dan peringatan tsunami berakhir,” jelas Jamroni.
Belum Ada Laporan Kerusakan di Sulsel
Hingga saat ini, BMKG belum menerima laporan adanya kerusakan bangunan maupun korban akibat gempa di wilayah Sulawesi Selatan.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Selayar, tidak ditemukan kerusakan pada infrastruktur maupun permukiman warga.
Sebaliknya, dampak kerusakan lebih banyak dilaporkan terjadi di wilayah NTT, terutama di Kabupaten Ende dan daerah sekitarnya. Sejumlah rumah dilaporkan roboh, sementara beberapa fasilitas umum mengalami kerusakan.
Wilayah Selayar Paling Merasakan Getaran
Jamroni menjelaskan getaran gempa paling kuat dirasakan masyarakat di wilayah Kepulauan Selayar karena lokasinya relatif dekat dengan pusat gempa di NTT.
Beberapa pulau yang berada di bagian selatan Sulawesi Selatan, seperti Pulau Madu dan Pulau Pasir Lambena, menjadi wilayah yang paling terdampak getaran maupun perubahan muka air laut.
“Lokasinya cukup dekat dengan pusat gempa sehingga getarannya lebih terasa. Selain itu, perubahan muka air laut juga dipengaruhi oleh karakter patahan yang bergerak naik,” ujarnya.
Sebelumnya, gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Berdasarkan data BMKG, episenter gempa berada pada koordinat 8,35 Lintang Selatan dan 121,37 Bujur Timur atau sekitar 36 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer.





