JAKARTA (kabarpublik.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan pada perdagangan Kamis (9/7). Tekanan berasal dari kombinasi sentimen global dan domestik yang memengaruhi pergerakan pasar.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG turun 7,60 poin atau 0,13 persen ke level 5.865,77. Sementara itu, Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan melemah 1,77 poin atau 0,30 persen menjadi 581,11.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi untuk menguji level support di kisaran 5.800 hingga 5.745.
“Pergerakan IHSG masih dibayangi tekanan sehingga berpotensi melanjutkan koreksi pada perdagangan hari ini,” ujarnya dalam kajian pasar, Kamis.
Dari pasar global, meningkatnya ketegangan geopolitik menjadi perhatian utama investor setelah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata telah berakhir, disertai langkah militer dan kebijakan yang memperketat tekanan terhadap Iran.
Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia karena muncul kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi, terutama di kawasan Selat Hormuz.
Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve (The Fed) menunjukkan perbedaan pandangan di kalangan pembuat kebijakan mengenai prospek inflasi. Sebagian menilai inflasi akan kembali menuju target 2 persen, sementara sebagian lainnya memperkirakan tekanan inflasi masih bertahan akibat tingginya permintaan terkait kecerdasan buatan (AI), konflik geopolitik, dan dampak kebijakan tarif.
Sementara itu, harga emas dunia melemah setelah rilis risalah rapat The Fed, seiring kenaikan harga minyak dan meningkatnya ekspektasi inflasi.
Dari dalam negeri, sentimen negatif datang setelah S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan (watchlist) yang berpotensi menurunkan status pasar modal Indonesia dari kategori emerging market menjadi frontier market.
Merespons hal tersebut, Bursa Efek Indonesia berencana melakukan pertemuan dengan S&P Dow Jones Indices guna membahas hasil evaluasi tersebut.
Selain itu, Kementerian Keuangan menargetkan arus investasi asing ke Pusat Financial Internasional Indonesia (PFII) mencapai Rp300 triliun hingga Rp500 triliun. Namun, meningkatnya kehati-hatian investor asing memicu arus keluar modal (capital outflow) dari pasar domestik.
Bank Indonesia juga melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun menjadi 117,8 pada Juni 2026 dari 120,9 pada Mei 2026. Penurunan juga terjadi pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) menjadi 109,2 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) menjadi 126,4.
Meski menurun, seluruh indikator tersebut masih berada di atas level 100 yang mencerminkan optimisme konsumen tetap terjaga. Investor selanjutnya akan mencermati data penjualan ritel dan penjualan sepeda motor sebagai indikator aktivitas konsumsi domestik.
Pada perdagangan sebelumnya, mayoritas bursa saham Eropa ditutup melemah. Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,79 persen, FTSE 100 Inggris melemah 1,66 persen, DAX Jerman terkoreksi 2,23 persen, dan CAC 40 Prancis turun 2,18 persen.
Di Amerika Serikat, Indeks Dow Jones melemah 1,09 persen, S&P 500 turun 0,28 persen, sedangkan Nasdaq Composite masih mampu menguat 0,27 persen.
Sementara itu, bursa saham Asia pada Kamis pagi bergerak bervariasi. Indeks Nikkei menguat 1,94 persen, Kospi naik 0,25 persen, dan Strait Times bertambah 0,78 persen. Sebaliknya, indeks Shanghai tercatat melemah 0,36 persen.






