Breaking News
Live Update Berita Terkini

Penguatan Rupiah Dinilai Jadi Momentum Kebangkitan Industri Otomotif

Rabu, 17 Jun 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Pengunjung mengamati mobil listrik dobel kabin yang hadir di pameran otomotif khusus kendaraan komersial, Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) 2026 di JIExpo), Kemayoran. Jakarta, Sabtu (11/4/2026). Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa pengembangan kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Indonesia tidak hanya fokus pada kendaraan penumpang, tetapi sudah mulai merambah sektor niaga dan kendaraan operasional, sebagai bagian dari peta jalan elektrifikasi hingga tahun 2030-an. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/wsj.
Dengarkan dgn suara Siap
3.9K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai menjadi peluang bagi industri otomotif untuk menjaga daya saing sekaligus mendorong permintaan pasar yang masih dalam tahap pemulihan.

Ekonom lulusan Universitas Indonesia dan University of Amsterdam, Josua Pardede, mengatakan pelaku industri perlu memanfaatkan penurunan biaya impor akibat penguatan rupiah untuk menjaga stabilitas harga kendaraan di tengah kondisi konsumen yang masih cenderung menunda pembelian.

Menurut Josua, ruang yang tercipta dari berkurangnya biaya impor sebaiknya digunakan untuk menahan kenaikan harga kendaraan, bukan semata-mata meningkatkan margin keuntungan.

“Jika rupiah menguat dan biaya impor turun, ruang tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk menjaga harga tetap stabil. Dalam kondisi konsumen masih menahan belanja, stabilitas harga lebih penting untuk menjaga permintaan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (17/6).

Selain menjaga harga, Josua menilai industri otomotif perlu memperkuat program pembiayaan agar kendaraan lebih terjangkau bagi masyarakat. Ia mendorong kolaborasi yang lebih erat antara produsen, perusahaan pembiayaan, dan perbankan dalam menghadirkan skema cicilan ringan, uang muka fleksibel, serta program bunga promosi yang tetap memperhatikan kualitas kredit.

Menurutnya, keterjangkauan cicilan masih menjadi faktor utama dalam keputusan masyarakat membeli kendaraan.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, terutama dengan masuknya berbagai merek otomotif asal China, Josua juga menekankan pentingnya peningkatan layanan purna jual. Produsen dinilai perlu memperkuat jaringan bengkel, ketersediaan suku cadang, serta membangun kepercayaan konsumen melalui layanan yang konsisten.

Selain itu, nilai tambah seperti servis gratis, garansi lebih panjang, diskon biaya perawatan, program tukar tambah, asuransi, hingga jaminan nilai jual kembali kendaraan dapat menjadi faktor penting dalam menarik minat pembeli.

“Dalam situasi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, konsumen tidak hanya melihat harga beli, tetapi juga biaya kepemilikan kendaraan dalam jangka panjang,” kata Josua.

Ia juga mengingatkan produsen dan diler untuk mengelola stok kendaraan secara disiplin. Fokus tidak hanya pada distribusi kendaraan dari pabrik ke diler, tetapi juga pada penjualan kepada konsumen akhir guna menghindari kelebihan persediaan yang berpotensi memicu diskon besar-besaran.

Untuk jangka panjang, Josua mendorong peningkatan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) guna mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi nilai tukar. Langkah tersebut penting terutama pada komponen strategis seperti baterai, motor listrik, elektronik, baja, plastik otomotif, kaca, ban, dan suku cadang utama.

Ia menilai kondisi pasar otomotif saat ini menunjukkan tanda-tanda perbaikan meski belum sepenuhnya pulih. Kenaikan penjualan secara tahunan yang masih disertai penurunan bulanan menunjukkan pemulihan berlangsung secara bertahap.

“Pasar otomotif masih perlu dijaga melalui strategi harga, pembiayaan, dan pengelolaan stok yang hati-hati,” ujar Kepala Ekonom Permata Bank tersebut.

Josua juga mengingatkan pentingnya dukungan pemerintah melalui stabilitas nilai tukar rupiah, konsistensi insentif kendaraan listrik, penguatan industri komponen lokal, serta upaya menjaga daya beli masyarakat agar momentum pemulihan industri otomotif dapat terus berlanjut.

Diketahui, rupiah menguat 82 poin atau 0,46 persen pada perdagangan Senin (15/6), dari Rp17.860 menjadi Rp17.778 per dolar AS. Hingga Rabu sore, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp17.758 per dolar AS.

No More Posts Available.

No more pages to load.