News Update
Live Update Berita Terkini

IHSG Sideways di Tengah Pasar “Wait and See”

Rabu, 21 Okt 2026
Editor: Jamalul Insan
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (20/10/2026). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/kye
Dengarkan dgn suara Siap
5.4K pembaca
JAKARTA  (Kabarpublik.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi bergerak sideways di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Dibuka menguat, IHSG pada pukul 09.15 WIB bergerak melemah 34,79 poin poin atau 0,66 persen ke posisi 5.244,10. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 3,47 poin atau 0,65 persen ke posisi 526,88.

“Volatilitas pergerakan saham diperkirakan masih akan tinggi dengan IHSG berpotensi menguji level 5.300-5.400,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026

Keterangan foto: Poster peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober.

Dari dalam negeri, Ratna mengatakan pelaku pasar akan mencermati hasil RDG BI dengan konsensus memperkirakan BI Rate akan naik 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen.

Ia menjelaskan bahwa ekspektasi kenaikan BI Rate didorong oleh tekanan inflasi, depresiasi Rupiah yang berlanjut, serta langkah antisipasi menjelang pertemuan The Fed pada pekan depan.

BI mewaspadai inflasi pangan yang telah mencapai 5 persen year on yaer (yoy), karena berpotensi menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan risiko inflasi secara lebih luas.

“Keputusan BI akan menjadi faktor penting bagi pergerakan Rupiah, pasar obligasi, dan IHSG,” ujar Ratna.

Ratna melanjutkan, kenaikan suku bunga berpotensi menopang stabilitas Rupiah, namun juga dapat meningkatkan tekanan pada pasar saham dan harga obligasi akibat ekspektasi biaya pendanaan yang lebih tinggi.

Selain itu, investor juga akan mencermati sinyal BI mengenai arah kebijakan moneter ke depan, terutama keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dari mancanegara, upaya mediasi antara Qatar dan Pakistan untuk menjembatani kepentingan Amerika Serikat (AS) dengan Iran melalui pelonggaran akses terhadap aset Iran serta inspeksi nuklir oleh IAEA membuka peluang meredanya ketegangan geopolitik jika proposal tersebut disepakati.

Dalam jangka pendek, perkembangan tersebut berpotensi menekan harga minyak, meskipun ketidakpastian masih tinggi hingga terdapat kesepakatan resmi dan implementasi yang jelas.

“Apabila konflik berlanjut, harga minyak berisiko bertahan tinggi dan memicu tekanan inflasi global, yang dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan,” ujar Ratna.

Bursa Eropa kompak melemah pada perdagangan Selasa (20/10) kemarin, diantaranya Euro Stoxx 50 melemah 0,33 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,29 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,06 persen, dan indeks CAC 40 Prancis melemah 0,38 persen.

Sementara bursa Wall Street AS bergerak variatif pada perdagangan Selasa (20/10), diantaranya indeks S&P 500 menguat 0,28 persen, indeks Nasdaq Composite melemah 0,02 persen, serta Dow Jones Industrial Average menguat 1,02 persen.

Bursa saham regional Asia pagi ini, indeks Nikkei menguat 1,31 persen ke 64.968,00, indeks Shanghai melemah 0,04 persen ke 3.733,96, indeks Hang Seng menguat 0,27 persen ke 23.919,95, indeks Kospi menguat 4,38 persen ke 5.792,17, dan indeks Straits Times menguat 0,13 persen ke 5.411,95. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.