JAKARTA (kabarpublik.id) – Dewan Pembina Garudayaksa FC Academy, Fary Djemy Francis, memprediksi Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko berpotensi melahirkan juara baru yang mampu mematahkan dominasi negara-negara tradisional sepak bola dunia.
Menurut Fary, perkembangan sepak bola modern membuat peluang meraih gelar juara tidak lagi hanya dimiliki negara-negara besar. Faktor seperti kualitas sistem pembinaan, kedalaman skuad, dan kemampuan beradaptasi menjadi penentu utama kesuksesan sebuah tim.
“Kini, keberhasilan tidak lagi semata ditentukan oleh nama besar, tetapi oleh kualitas sistem, kedalaman skuad, dan kemampuan beradaptasi. Dalam konteks tersebut, Belanda dan Jepang layak disebut sebagai dua kekuatan disruptif di Piala Dunia 2026,” kata Fary dalam keterangan tertulis, Kamis (11/6).
Piala Dunia 2026 menjadi edisi bersejarah karena untuk pertama kalinya digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, serta diikuti 48 peserta.
Turnamen akan dibuka pada Jumat (12/6) dini hari WIB di Stadion Azteca, Mexico City, mempertemukan tuan rumah Meksiko dengan Afrika Selatan. Pertandingan tersebut mengulang laga pembuka Piala Dunia 2010 yang berakhir imbang 1-1.
Fary menilai Belanda memiliki modal kuat untuk melangkah jauh di turnamen. Tim berjuluk Oranye itu dinilai memiliki fondasi sepak bola yang kokoh, filosofi permainan yang jelas, serta tradisi panjang dalam melahirkan pemain-pemain berkualitas dunia.
Meski tidak selalu masuk daftar favorit utama, Belanda kerap tampil efektif saat ekspektasi publik tidak terlalu tinggi.
“Dengan kombinasi pemain senior dan generasi baru yang matang di liga-liga elite Eropa, Belanda berpotensi menjadi silent contender yang perlahan menyingkirkan para unggulan hingga mencapai partai puncak,” ujarnya.
Belanda tergabung di Grup F bersama Jepang, Swedia, dan Tunisia. Menariknya, Jepang juga menjadi salah satu tim yang mendapat perhatian khusus dari Fary.
Menurut dia, Jepang sukses membangun kekuatan sepak bola melalui pendekatan yang berbeda, yakni mengandalkan disiplin kolektif, investasi jangka panjang, pembinaan pemain muda, serta budaya kerja yang konsisten.
Kini, Jepang dinilai telah menjelma menjadi representasi sepak bola Asia yang modern, efisien, dan mampu bersaing di level tertinggi dunia.
“Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang telah membuktikan mampu mengalahkan tim-tim elite dunia. Hal ini menunjukkan bahwa batas antara negara favorit dan nonfavorit semakin tipis,” katanya.
Fary bahkan membuka peluang Belanda maupun Jepang untuk mengangkat trofi juara dunia pada 20 Juli 2026.
“Bila skenario tersebut terjadi, maka Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan karena mempertahankan dominasi lama, melainkan menjadi titik awal lahirnya tatanan baru sepak bola dunia,” tutupnya.




