Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo di Cilacap, Kamis, mengatakan masa transisi tersebut berpotensi ditandai hujan lebat, disertai petir dan angin kencang hingga puting beliung.
“Pada saat musim transisi atau peralihan, cuaca buruk berpotensi terjadi, seperti hujan lebat disertai petir, hujan lebat disertai angin kencang, serta adanya angin puting beliung yang bisa berdampak terhadap terjadinya bencana hidrometeorologi,” katanya.
Ia mengatakan kondisi tersebut perlu diwaspadai karena tanah, terutama di wilayah dataran tinggi, sebelumnya berada dalam kondisi cukup kering akibat musim kemarau.
“Kondisi tanah yang tadinya cukup kering akibat kemarau di dataran tinggi akan bisa berbahaya apabila terkena hujan dan bisa berakibat terjadinya tanah longsor,” katanya.
Teguh mengatakan berdasarkan prakiraan BMKG, awal musim hujan tahun 2026 di wilayah Jateng bagian selatan umumnya terjadi pada dasarian II November hingga dasarian I Desember atau mundur dari kondisi normal.
Ia mencontohkan awal musim hujan tahun 2026 di Kabupaten Cilacap diprakirakan mengalami kemunduran antara dua hingga lebih dari tiga dasarian atau sekitar 20-30 hari dibandingkan kondisi normal.
Berdasarkan prakiraan BMKG tersebut, sifat musim hujan di sebagian besar wilayah Cilacap diprakirakan normal, sedangkan Cilacap bagian timur diprakirakan mengalami musim hujan dengan sifat di bawah normal.
“Puncak musim hujan di Kabupaten Cilacap diprakirakan terjadi pada Januari dan Februari 2027,” katanya.
Teguh memprakirakan wilayah Cilacap bagian timur, tenggara, dan pesisir tenggara mengalami puncak musim hujan pada Januari, sedangkan wilayah bagian selatan, tengah, timur laut, dan barat laut pada Februari 2027.
Selain itu, kata dia, durasi musim hujan diprakirakan berlangsung selama 12-17 dasarian atau lebih pendek tiga dasarian hingga lebih dari tiga dasarian dibandingkan kondisi normal.
“Kami mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan cuaca selama masa peralihan, terutama terhadap potensi hujan lebat, petir, angin kencang, dan puting beliung yang dapat memicu bencana hidrometeorologi,” kata Teguh.







