Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi Purchasing Managers’ Index (PMI) AS yang tumbuh kuat.
“Sentimen global masih menjadi faktor utama yang menekan rupiah hari ini. Dolar AS menguat setelah data Flash PMI AS September menunjukkan aktivitas bisnis tumbuh cukup kuat, dengan Composite PMI naik menjadi 58,4 dari 56,0 pada Agustus dan menjadi level tertinggi sejak Juli 2021,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Data tersebut menunjukkan momentum ekonomi AS masih solid, lanjutnya, sementara tekanan biaya dan inflasi juga masih persisten sehingga ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang relatif ketat tetap terjaga.
Kondisi ini dinilai membuat dolar AS dan aset berbasis dolar tetap menarik, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Melihat sentimen domestik, sentimen berasal dari keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dan menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui optimalisasi berbagai instrumen moneter.
“Posisi cadangan devisa yang masih kuat di sekitar 146,5 miliar dolar AS juga menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menjaga ketahanan eksternal,” ungkap Amru.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.893 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.803 per dolar AS.





