Breaking News
Live Update Berita Terkini

Banjir Bandang Maninjau Tinggalkan Luka dan Ancaman Kesehatan bagi Warga Pengungsian

Minggu, 21 Des 2025
Editor: Eky
Pos pelayanan kesehatan Kabupaten Agam. (Dok. kemenkes.go.id)
Dengarkan dgn suara Siap
53.6K pembaca

SUMBAR (kabarpublik.id) – Banjir bandang yang melanda kawasan Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, datang tanpa peringatan dan meninggalkan duka mendalam bagi warga. Salah satunya dialami Virginia (25), warga Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, yang harus meninggalkan rumahnya di tengah kepanikan demi menyelamatkan diri dan anak-anaknya.

Dalam kondisi gelap, Virginia hanya sempat membawa dokumen penting. Rumah beserta sumber penghidupannya hilang tersapu arus deras. “Kami hanya sempat membawa dokumen. Suara dentuman sudah terdengar, air meluas ke mana-mana,” ujarnya.

Keesokan hari, rumah yang ditinggali Virginia bersama ibunya tinggal puing. Ia bersama tiga anaknya berpindah-pindah tempat, mulai dari masjid hingga akhirnya menetap di posko pengungsian Pasar Rakyat Nagari Sungai Batang.

Kehidupan di pengungsian memunculkan persoalan baru, terutama kesehatan. Lingkungan terbuka, udara dingin, debu, serta keterbatasan perlengkapan menyebabkan banyak pengungsi mengalami gangguan kesehatan. Batuk, demam, dan nyeri otot menjadi keluhan yang paling sering dirasakan, terutama oleh anak-anak.

“Tempatnya terbuka, selimut terbatas, dan banyak debu. Anak-anak jadi mudah batuk, saya sendiri sempat demam hampir sepuluh hari,” kata Virginia.

Keluhan serupa disampaikan Nani (46), warga Nagari Bayua, yang datang ke posko kesehatan bersama anaknya. Ia mengaku sering mengalami pusing, nyeri pinggang, serta gangguan kulit pada anaknya pascabencana. “Mungkin juga karena masih trauma. Anak saya gatal-gatal,” tuturnya.

Kepala Puskesmas Maninjau, Ns. Hermalina, S.Kep., menjelaskan bahwa kondisi tersebut umum terjadi setelah bencana. “Kasus yang paling banyak kami tangani meliputi ISPA, hipertensi, diare, penyakit kulit, mialgia, dan demam. Faktor lingkungan, kelelahan, serta stres pascabencana sangat memengaruhi kesehatan warga,” jelasnya.

Menurut Hermalina, layanan kesehatan terus diberikan melalui puskesmas, posko kesehatan, layanan keliling, hingga kunjungan langsung ke lokasi pengungsian.

“Kami berupaya memastikan pelayanan tetap berjalan meski dengan keterbatasan. Selama warga membutuhkan, kami akan terus turun ke lapangan,” tegasnya.

Di tengah keterbatasan, keberadaan posko kesehatan menjadi penopang rasa aman bagi para pengungsi. Virginia mengaku rutin memeriksakan kesehatan dirinya dan anak-anak. “Pelayanannya baik, obatnya lengkap sampai kami sembuh,” katanya.
Hal serupa dirasakan Nani. “Dokternya ramah, pelayanannya bagus. Anak saya dapat salep dan obat penambah nafsu makan, saya juga diberi obat. Alhamdulillah sangat membantu,” ujarnya.

Meski demikian, tantangan warga tidak berhenti pada pemulihan kesehatan. Rumah Virginia dan ibunya rusak berat. Sebagai pedagang gorengan, ia kehilangan seluruh peralatan memasak yang menjadi sumber penghasilan keluarga.

“Kami ingin mandiri lagi. Kalau ada kompor atau wajan yang masih bisa dipakai, kami ingin mulai berjualan. Tidak mungkin selamanya bergantung pada bantuan,” ucapnya.

Kisah Virginia dan Nani menggambarkan kondisi banyak warga Maninjau yang kini berjuang bangkit di tengah kehilangan. Dengan dukungan layanan kesehatan, relawan, dan solidaritas berbagai pihak, proses pemulihan perlahan berjalan. Upaya yang dilakukan hari ini diharapkan menjadi fondasi menuju pemulihan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak banjir bandang Maninjau.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.