Amran Sulaiman Jadi Menteri Berkinerja Terbaik Kedua, Sektor Pertanian Catat Rekor Tertinggi

Sabtu, 18 Okt 2025
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat memberikan tips agar generasi muda meraih kesuksesan. (Dok. Kementan)
Dengarkan dgn suara Siap
5.8K pembaca

JAKARTA (kabarpublik) – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kembali mencatat prestasi membanggakan. Berdasarkan survei terbaru Strategic and Political Insight Network (SPIN), Amran menempati posisi kedua sebagai menteri berkinerja terbaik di Kabinet Indonesia Maju dengan tingkat apresiasi publik mencapai 67,3 persen.

Survei SPIN dilakukan terhadap 1.600 responden di 38 provinsi pada 1–9 Oktober 2025 menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error ±2,45 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Hasilnya, Amran hanya terpaut tipis dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’thi yang menempati posisi pertama dengan 67,5 persen.

Gambar konten
Sumber: Kabarpublik.id

Direktur Eksekutif SPIN Mawardin Sidik menjelaskan, menteri dengan kinerja tinggi adalah mereka yang berhasil menjalankan program prioritas secara nyata dan komunikatif, dengan hasil yang dirasakan langsung masyarakat, terutama di bidang pelayanan publik.

Posisi Amran di klaster tersebut menunjukkan konsistensi kebijakan Kementerian Pertanian dalam menjaga stabilitas pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Kinerja positif sektor pertanian juga terlihat dari survei Litbang Kompas (Oktober 2025), yang mencatat 71,5 persen masyarakat puas terhadap kinerja Kementerian Pertanian. Peneliti Litbang Kompas Agustina Purwanti menyebut kepuasan publik ini muncul karena kebijakan pangan pemerintah dinilai efektif dan berdampak langsung pada masyarakat.

“Kepuasan responden terhadap Kementerian Pertanian di angka 71,5 persen. Banyak program pangan pemerintah yang sudah dirasakan hasilnya,” ujar Agustina.

Dari sisi capaian konkret, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2025 mencapai 124,36, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Angka ini menunjukkan peningkatan daya beli dan kesejahteraan petani.

Sementara itu, stok beras nasional mencapai 4,2 juta ton, tertinggi sejak Bulog berdiri. Kondisi ini turut mendorong deflasi beras sebesar 0,13 persen pada September 2025 pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.

Produksi beras nasional tahun 2025 juga melonjak signifikan. BPS memperkirakan produksi Januari–November 2025 mencapai 33,19 juta ton, naik 12,62 persen dibanding periode yang sama tahun 2024 (29,47 juta ton).

Lembaga internasional juga mencatat hal serupa. USDA memperkirakan produksi beras Indonesia tahun ini mencapai 34,6 juta ton, sementara FAO memproyeksikan 35,6 juta ton untuk masa tanam 2025/2026, capaian tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Lilik Sutiarso, menilai tren tersebut menunjukkan bahwa target swasembada pangan 2025 sudah di depan mata.

“Target swasembada yang semula empat tahun kini dipercepat jadi satu tahun. Produktivitas meningkat, infrastruktur pertanian semakin merata,” kata Prof. Lilik.

Menanggapi hasil survei dan capaian tersebut, Mentan Amran Sulaiman menegaskan bahwa swasembada pangan bukan lagi cita-cita, tapi target realistis yang akan tercapai akhir 2025.

“Insyaallah tahun ini kita capai swasembada pangan. Tidak ada lagi impor beras. Negara hadir untuk petani menaikkan HPP gabah jadi Rp6.500 per kilogram, memastikan pupuk subsidi 100 persen tersalurkan, dan menjaga stok beras tertinggi dalam dua dekade terakhir,” ujar Amran.

Dengan kebijakan terukur, peningkatan produksi berkelanjutan, dan kepercayaan publik yang terus meningkat, Indonesia kini berada di ambang sejarah baru menuju swasembada pangan 2025 dan kedaulatan pangan nasional.

No More Posts Available.

No more pages to load.