Breaking News
Live Update Berita Terkini

Tenun Manurung Tanah Bumbu Bertahan dengan Inovasi Ramah Lingkungan

Selasa, 18 Agu 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Tenun Manurung naik kelas, merawat tradisi dan kembangkan inovasi ramah lingkungan. ANTARA/Sujud Mariono
Dengarkan dgn suara Siap
1.5K pembaca

BATULICIN (kabarpublik.id) – Tenun Manurung di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, terus dikembangkan di tengah persaingan produk tekstil modern. Selain mempertahankan warisan budaya, pengembangan tenun tradisional tersebut diarahkan menjadi sumber penghidupan masyarakat melalui inovasi produk dan produksi yang lebih ramah lingkungan.

Ketua Tim Pelaksana Pemberdayaan Desa Binaan Tahun 2026, Samsul Hadi, mengatakan pelestarian Tenun Manurung dilakukan dengan memperkenalkan inovasi, mulai dari penggunaan pewarna alami hingga teknik ecoprint.

“Kami selalu berupaya menjaga keberlanjutan dan merawat tradisi ini dengan berinovasi memberi pewarna alami pada proses pembuatan kain tenun hingga ecoprint yang ramah lingkungan,” ujar Samsul di Batulicin, Selasa (18/8/2026).

Upaya tersebut dilakukan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat atau Program Desa Binaan Tahun 2026 di Desa Manurung. Program ini mendapat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Dua kelompok penenun yang menjadi sasaran program adalah Kelompok Tenun Mandiri yang dikelola Abdul Aziz dan Kelompok Generasi Tenun Pagatan yang dikelola Bahruddin.

Produksi Naik dengan Alat Tenun Bukan Mesin

Samsul mengatakan program pemberdayaan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong inovasi produk dan penerapan proses produksi yang memperhatikan kelestarian lingkungan.

Pada tahap awal, para penenun diperkenalkan dengan alat tenun bukan mesin (ATBM). Penggunaan alat tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas hingga 6,25 kali dibandingkan metode gedog.

Pada 2026, sebanyak empat anggota Kelompok Tenun Mandiri dan tiga anggota Kelompok Generasi Tenun Pagatan telah terampil mengoperasikan ATBM.

Peningkatan kapasitas produksi kemudian diikuti dengan pengembangan produk turunan. Para penenun tidak lagi hanya memproduksi kain, tetapi mulai mengolahnya menjadi produk seperti tas dan handbag.

Pengembangan produk tersebut membuka peluang peningkatan nilai ekonomi bagi kelompok penenun. Namun, bertambahnya produksi juga memunculkan tantangan baru, khususnya dalam pengelolaan limbah pewarnaan.

Dorong Pewarna Alami dan Ecoprint

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim pemberdayaan mendorong penenun memperkuat pengelolaan limbah serta mengembangkan penggunaan pewarna alami.

“Untuk mengurai tantangan itu, kami mengarahkan mereka dengan melakukan penguatan pengelolaan limbah dan pemanfaatan pewarna alami,” kata Samsul.

Limbah dari proses pewarnaan diarahkan untuk melalui penyaringan dan proses koagulasi atau flokulasi menggunakan sistem pengolahan sederhana sebelum dibuang secara aman.

Selain pewarna alami, teknik ecoprint juga diperkenalkan untuk memperluas variasi desain tekstil. Teknik tersebut memanfaatkan karakter alami bagian tumbuhan untuk menghasilkan motif pada kain.

Hasil program menunjukkan peningkatan keterampilan anggota kelompok. Anggota Kelompok Tenun Mandiri yang sebelumnya belum memiliki keterampilan dalam mengolah limbah kini bertambah menjadi empat orang.

Sementara itu, jumlah anggota yang terampil dalam pewarnaan alami dan ecoprint meningkat dari satu orang menjadi empat orang.

Menurut Samsul, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan mempertahankan metode lama secara mutlak. Tradisi dapat terus berkembang apabila dipadukan dengan pengetahuan, teknologi, inovasi, dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Perubahan ini menunjukkan bahwa pelestarian tradisi tidak harus berhenti pada mempertahankan cara lama. Tradisi justru dapat semakin kuat ketika dipadukan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi produk, dan kepedulian lingkungan,” ujarnya.

Ia berharap keterampilan yang telah diperoleh dapat terus diterapkan dan ditularkan kepada anggota kelompok lainnya. Dengan demikian, pengelolaan limbah, penggunaan pewarna alami, dan ecoprint tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi menjadi bagian dari proses produksi sehari-hari.

Tenun Manurung dinilai memiliki peluang untuk berkembang menjadi produk lokal yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga bernilai ekonomi, inovatif, dan semakin ramah lingkungan.

“Tenun Manurung menunjukkan bahwa keberlanjutan budaya dapat berjalan beriringan dengan keberlanjutan ekonomi dan lingkungan,” kata Samsul.

No More Posts Available.

No more pages to load.