News Update
Live Update Berita Terkini

Museum Tekstil Ajak Generasi Muda Kenali dan Lestarikan Batik Indonesia

Jumat, 2 Okt 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Sejumlah koleksi batik yang dipamerkan dalam pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” di Museum Tekstil, Jakarta, dalam memperingati Hari Batik Nasional 2026. (ANTARA/Sri Dewi Larasati)
Dengarkan dgn suara Siap
9.7K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Museum Tekstil, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, tidak sekadar bangga mengenakan batik, tetapi juga mengenal, mempelajari, merawat, dan meneruskan pengetahuan tentang batik.

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Sri Kusumawati mengatakan keberlanjutan batik sebagai warisan budaya sangat bergantung pada kemampuan generasi penerus untuk menjadikannya tetap hidup, relevan, dan dicintai.

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026

Keterangan foto: Poster peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober.

“Keberlanjutan batik sebagai warisan budaya sangat bergantung pada sejauh mana kita mampu menjadikannya tetap hidup, relevan, dan dicintai dari generasi ke generasi,” kata Sri kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (2/10).

Ajakan tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober. Museum Tekstil menggelar pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” untuk memperkenalkan keberagaman tradisi batik dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Sri, Hari Batik Nasional menjadi momentum untuk mengingat bahwa batik tidak hanya berupa kain atau busana, tetapi juga bagian dari identitas dan kekayaan budaya Indonesia.

Melalui pameran tersebut, Museum Tekstil ingin mengajak masyarakat melihat lebih dekat keragaman tradisi batik sekaligus memahami nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya.

“Setiap motif dan setiap lembar kain menyimpan jejak sejarah, kreativitas, serta kehidupan masyarakat pada zamannya,” ujar Sri.

Pameran tersebut menampilkan 60 koleksi batik yang merupakan koleksi lama Museum Tekstil. Rinciannya terdiri atas tiga batik Demak, 15 batik Kudus, dan 42 batik Banyumas.

Sri menjelaskan, tradisi batik dari ketiga daerah tersebut merupakan bagian dari perjalanan sosial dan budaya masyarakat setempat. Namun, keberadaannya mengalami dinamika seiring perubahan zaman.

Sejumlah faktor turut memengaruhi keberlanjutan tradisi tersebut, antara lain berkurangnya regenerasi pembatik, perubahan pola kehidupan masyarakat, perkembangan selera, serta kondisi sosial dan ekonomi.

“Berkurangnya regenerasi pembatik, perubahan pola kehidupan masyarakat, perkembangan selera, serta berbagai faktor sosial dan ekonomi turut memengaruhi keberlanjutan tradisi tersebut,” katanya.

Pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan koleksi batik dari ketiga daerah tersebut. Pameran itu juga membuka ruang dialog mengenai perjalanan, keindahan, dan keberlanjutan tradisi batik.

“Meskipun masa kejayaannya mungkin telah berlalu, jejak keterampilan, kreativitas, dan nilai budaya yang terkandung dalam karya-karya tersebut tetap hidup hingga hari ini,” ujar Sri.

Peran Museum Tekstil

Sebagai museum yang memiliki perhatian khusus terhadap tekstil Indonesia, Museum Tekstil tidak hanya bertugas menyimpan dan merawat koleksi.

Museum juga melakukan pendataan, dokumentasi, konservasi, penelitian, pameran, serta berbagai kegiatan edukasi dan program publik.

Dalam upaya menjaga keberlanjutan batik, Museum Tekstil juga membangun kolaborasi dengan pembatik, komunitas, akademisi, kolektor, dan berbagai pihak yang memiliki pengetahuan mengenai batik.

Sri menegaskan bahwa pelestarian batik tidak cukup dilakukan dengan menjaga kainnya. Pengetahuan mengenai pembuat, daerah asal, teknik pembuatan, motif, pewarnaan, fungsi, hingga cerita masyarakat di balik setiap kain juga perlu didokumentasikan.

“Dengan demikian, museum dapat menjadi ruang yang menghubungkan warisan masa lalu dengan perkembangan batik masa kini dan generasi yang akan datang,” kata Sri.

No More Posts Available.

No more pages to load.