Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi potensi kuat kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh global, (yakni) antisipasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan hari ini waktu AS dimana 100 persen survei pelaku pasar memperkirakan 25 bps (basis points) kenaikan menjadi 4 persen didorong oleh harga minyak yg masih di level 105 dolar AS per barel,” ucapnya di Jakarta, Rabu.
Mengutip Kantor Berita China Xinhua, sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh Federal Open Market Committee (FOMC), yang memulai pertemuan kebijakan bulan September pada hari Selasa (15/9).
Menyusul data inflasi yang tinggi selama berbulan-bulan, para pelaku pasar sangat meyakini bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga saat pertemuan tersebut berakhir pada hari Rabu (16/9).
Melihat sentimen domestik, hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pekan depan dihadapkan pada tekanan eksternal, sikap The Fed yang hawkish, tren kenaikan inflasi, hingga ruang fiskal pemerintah semakin menyempit untuk mentransmisi selisih harga minyak dengan asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di kisaran 70 dolar AS per barel.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar di kisaran Rp17.690 – Rp17.750 per dolar AS. (ant)







