JEMBER (kabarpublik.id) – Bencana angin puting beliung menerjang Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu sore (8/11/2026). Peristiwa tersebut menyebabkan enam orang mengalami luka ringan, 184 rumah warga terdampak, serta sejumlah fasilitas umum mengalami kerusakan.
Kencangnya angin membuat genteng dan atap rumah warga beterbangan. Sejumlah warga panik dan berusaha menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman saat angin menerjang permukiman.
Salah seorang warga terdampak, Sugiono, mengatakan angin datang secara tiba-tiba sehingga warga tidak sempat melakukan banyak persiapan.
“Angin puting beliung begitu cepat menerjang sejumlah rumah dan warga sempat panik. Ada yang keluar rumah dan ada pula yang berlindung di dalam rumah,” kata Sugiono.
Ia menuturkan banyak genteng dan bagian atap rumah warga tersapu angin. Meski mengalami kerusakan, warga bersyukur tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, menyampaikan bahwa enam warga mengalami luka ringan akibat bencana tersebut.
Para korban mengalami luka lecet di bagian kepala serta kaki. Mereka telah mendapatkan penanganan medis dari petugas puskesmas setempat dan diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan.
Berdasarkan pendataan BPBD Jember, kerusakan rumah warga meliputi enam kepala keluarga (KK) dengan kategori rusak sedang dan 178 KK mengalami kerusakan ringan.
Selain rumah warga, enam fasilitas umum juga terdampak. Kerusakan meliputi bagian atap empat musala, Masjid Nurul Amin, serta Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nuruzzaman.
Angin kencang tersebut juga mengakibatkan puluhan pohon tumbang, rumpun bambu roboh, serta satu tiang listrik milik PLN ambruk. Kabel listrik turut tertimpa pohon sehingga petugas PLN melakukan perbaikan jaringan.
Petugas bersama warga telah mengevakuasi pohon tumbang yang menghalangi jalan sehingga akses lalu lintas kembali normal. Sementara pohon yang menimpa atau mengarah ke rumah warga ditangani secara mandiri dengan bantuan petugas.
Edy mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama masa pancaroba atau peralihan musim kemarau ke musim hujan. Menurutnya, perubahan cuaca pada periode tersebut berpotensi memicu angin kencang yang dapat membahayakan keselamatan warga dan merusak bangunan.
Masyarakat diminta mengantisipasi potensi cuaca ekstrem dengan memperhatikan kondisi lingkungan serta menghindari area yang rawan tertimpa pohon atau material bangunan.







