News Update
Live Update Berita Terkini

DEN: Diversifikasi Energi Jadi Kunci Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Jumat, 6 Nov 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Surono pada kegiatan Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Lampung. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi
Dengarkan dgn suara Siap
1.1K pembaca

BANDARLAMPUNG (kabarpublik.id) – Dewan Energi Nasional (DEN) menilai diversifikasi sumber energi menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Anggota DEN Surono mengatakan, diversifikasi energi dapat menekan risiko ketergantungan pada satu jenis sumber energi. Selain itu, langkah tersebut juga dapat mengurangi dampak fluktuasi harga energi global, mengoptimalkan potensi energi dalam negeri, serta meningkatkan keandalan sistem energi nasional.

Hal itu disampaikan Surono dalam kegiatan Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Lampung, Bandarlampung, Jumat (6/11/2026).

Ia menjelaskan, pemerintah menargetkan kontribusi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional mencapai sekitar 70–72 persen pada 2060.

Target tersebut didukung optimalisasi berbagai potensi energi, mulai dari tenaga surya, hidro, bioenergi, panas bumi, nuklir, hingga energi laut seperti pasang surut, gelombang, dan arus laut.

Seiring meningkatnya pemanfaatan energi baru dan terbarukan, porsi batu bara dalam bauran energi primer diproyeksikan terus menurun.

Surono memaparkan, kontribusi batu bara pada 2030 diperkirakan mencapai 40,7 persen. Angka tersebut kemudian turun menjadi 28,9 persen pada 2040, 19,1 persen pada 2050, dan tersisa 7,8 persen pada 2060.

Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi ketergantungan cukup besar terhadap impor untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Berdasarkan data yang disampaikan Surono, pada 2025 sebanyak 38,7 persen kebutuhan minyak mentah untuk kilang domestik masih dipenuhi melalui impor. Sementara itu, impor juga mencakup 34,2 persen kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional dan 80,6 persen kebutuhan liquefied petroleum gas (LPG).

Menurut Surono, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber energi sekaligus jalur impor agar pasokan energi nasional tidak bergantung pada negara atau sumber tertentu.

Ia menyebutkan, terdapat empat langkah prioritas untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Pertama, melakukan diversifikasi sumber dan jalur impor energi. Kedua, memperkuat stok operasional LPG dan BBM. Ketiga, mengoptimalkan produksi minyak mentah dalam negeri. Keempat, mempercepat pembangunan dan pengoperasian Cadangan Penyangga Energi (CPE).

Surono menegaskan, langkah-langkah tersebut perlu dilakukan secara terpadu untuk menjaga ketersediaan pasokan energi dan memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.

No More Posts Available.

No more pages to load.