JAKARTA (kabarpublik.id) – Perencana keuangan sekaligus pendiri DNA Finance Indonesia, Aliyah Natasya, mengimbau para orang tua untuk mempersiapkan dana pendidikan anak secara terencana dan terpisah dari kebutuhan rutin bulanan. Langkah ini dinilai penting untuk menghindari tekanan keuangan saat memasuki tahun ajaran baru.
Aliyah mengatakan banyak keluarga mengalami kesulitan keuangan pada Juni dan Juli karena harus menanggung berbagai biaya pendidikan yang bersifat tahunan, sementara pembayarannya diambil dari penghasilan bulanan yang sedang berjalan.
“Kesalahan terbesar yang sering saya temui adalah orang tua membayar biaya pendidikan tahunan menggunakan gaji bulan berjalan. Akibatnya, kondisi keuangan keluarga menjadi berat pada periode tahun ajaran baru,” ujarnya saat dihubungi ANTARA, Kamis.
Lulusan Master of Science (MSc) bidang Economic Competitiveness and International Business dari University of Birmingham itu menjelaskan bahwa pengelolaan keuangan keluarga perlu dibedakan berdasarkan jangka waktu pengeluaran.
- MUI Bakal Miliki Gedung Sekretariat, Ditandai Bupati Eka Putra Letakkan Batu Pertama
- Dukung Program 3 Juta Rumah dan Sekolah Rakyat, Menteri Nusron Pesan agar Pembangunan Tidak Dilakukan di Atas Lahan Sawah demi Ketahanan Pangan
- Lewat Co-Firing, 40 PLTU PLN Grup Mampu Turunkan Emisi Hingga 429 Ribu Ton CO2
Menurut dia, kebutuhan rutin seperti belanja rumah tangga, tagihan listrik, transportasi, dan uang sekolah bulanan dapat dipenuhi dari pendapatan bulanan. Sementara itu, biaya pendidikan tahunan harus dipersiapkan sejak jauh hari karena sifatnya dapat diprediksi.
Biaya tersebut meliputi uang pangkal, pembelian seragam, buku pelajaran, hingga berbagai kegiatan sekolah yang biasanya sudah diketahui jadwal dan kebutuhannya sejak awal tahun ajaran.
Untuk mengantisipasi pengeluaran tersebut, Aliyah menyarankan orang tua menerapkan metode sinking fund atau dana cadangan khusus yang dikumpulkan secara bertahap setiap bulan.
Ia menjelaskan, langkah pertama adalah mencatat seluruh kebutuhan pendidikan tahunan, menghitung total biaya yang diperlukan, kemudian membaginya ke dalam alokasi bulanan yang disisihkan secara konsisten.
“Caranya sederhana, buat daftar seluruh kebutuhan pendidikan tahunan, hitung totalnya, lalu bagi 12 bulan dan sisihkan setiap menerima gaji, idealnya melalui autodebit,” katanya.
Aliyah menegaskan bahwa keberhasilan mengelola biaya pendidikan tidak selalu bergantung pada besarnya penghasilan, tetapi pada kedisiplinan dalam membangun sistem pengelolaan keuangan yang terencana.
Ia juga menyarankan setiap keluarga memiliki rekening khusus dana pendidikan yang terpisah dari rekening operasional harian. Dengan demikian, dana yang telah disiapkan tidak mudah digunakan untuk kebutuhan lain.
Selain itu, keluarga dianjurkan menyusun dua jenis anggaran, yaitu anggaran bulanan untuk kebutuhan rutin seperti SPP, transportasi, dan les, serta anggaran tahunan untuk biaya pendidikan yang muncul secara berkala, seperti uang pangkal, buku, seragam, dan kegiatan sekolah.
Dengan perencanaan yang matang, keluarga dapat menghadapi kebutuhan pendidikan anak tanpa mengganggu stabilitas keuangan rumah tangga.






