Senior Cloud and AI Platform GTM Microsoft ASEAN Fiki Setiyono dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa, menjelaskan pekerja pengguna AI di Indonesia tidak hanya menggunakan teknologi untuk membantu menyelesaikan pekerjaan yang rumit, tapi, juga menciptakan cara kerja baru dengan dukungan AI tanpa sepenuhnya menyerahkan proses pengambilan keputusan kepada teknologi tersebut.
“Tapi justru menggunakan kemampuan berpikir kritis mereka untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari kemampuan agen AI tersebut, memperluas cara berpikir, memperluas kapasitas berpikir,” kata Fiki.
Jumlah pengguna AI di Indonesia yang termasuk frontiers professionals dua kali lipat lebih besar dibandingkan rata-rata global yang berada di level 16 persen. Menurut dia, Indonesia termasuk salah satu negara yang menonjol dalam pemanfaatan agen AI di kawasan Asia Pasifik.
Berdasarkan hasil riset, sebanyak 82 persen responden di Indonesia mengaku mampu menyelesaikan pekerjaan sebelumnya dianggap sulit atau bahkan tidak mungkin dilakukan. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di angka 58 persen.
Selain itu, sebanyak 74 persen responden menyatakan mereka terbiasa menentukan terlebih dulu tugas-tugas yang akan diserahkan kepada AI sebelum mulai bekerja.
Sementara 38 persen responden mengaku tetap mengerjakan sebagian pekerjaan secara mandiri tanpa bantuan AI agar kemampuan mereka tetap terasah. Persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan pengguna non-frontier di Indonesia yang mencapai 28 persen.
Microsoft juga menemukan bahwa penggunaan AI di kalangan frontier professionals tidak lagi terbatas pada pemberian perintah atau prompt kepada chatbot.
Fiki menjelaskan terdapat empat pola utama dalam pemanfaatan AI, yakni delegasi, kolaborasi, bertanya, dan eksplorasi.
Pada tahap delegasi, pengguna menyerahkan sebagian pelaksanaan tugas kepada agen AI. Dalam kolaborasi, AI digunakan sebagai mitra untuk membantu proses analisis dan pengambilan keputusan.
Sementara itu, AI juga dimanfaatkan sebagai alat riset untuk mencari informasi melalui proses tanya jawab serta sebagai mitra eksplorasi ketika menghadapi persoalan yang semakin kompleks.
Meski demikian, Fiki menegaskan bahwa ciri utama frontier professionals bukan hanya kemampuan memanfaatkan berbagai fungsi AI tersebut, tapi, juga kesediaan untuk tetap bertanggung jawab atas hasil akhir yang dihasilkan.
“Jadi frontier professionals selain mereka melakukan pemanfaatan AI ini dengan alat yang tersedia, mereka tetap memposisikan diri mereka bertanggung jawab terhadap hasil dan dampaknya,” kata Fiki.
Menurut Microsoft, kematangan penggunaan AI di Indonesia juga terlihat dari semakin kuatnya peran penilaian manusia dalam proses pemanfaatan teknologi tersebut. Sebanyak 62 persen responden menilai kemampuan berpikir kritis dan menganalisis informasi secara objektif menjadi semakin penting di era AI.
Selain itu, 60 persen responden menyebut proses pengendalian kualitas terhadap hasil yang dihasilkan AI kini semakin krusial seiring meningkatnya kompleksitas tugas yang didelegasikan kepada agen AI.
Temuan lainnya menunjukkan sebanyak 93 persen pengguna AI di Indonesia menganggap hasil yang diberikan AI hanya sebagai titik awal, bukan keputusan akhir.
“Pengguna AI di Indonesia ini tetap menempatkan penilaian manusia ya sebagai pusat dari keputusan mereka bagaimana mereka akan menggunakan agen AI,” ujar Fiki.
Dia menilai pendekatan tersebut menjadi salah satu pembeda utama antara sekadar mengadopsi AI dengan mencapai tingkat kematangan dalam pemanfaatannya.
“Salah satu pembeda adopsi AI dan kematangan dalam menggunakan AI adalah sebuah pemikiran yang menempatkan penilaian AI itu tetap berperan penting bahkan kritikal,” katanya. (ant)





