PALU (kabarpublik.id) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 782 gempa susulan di Sulawesi Tengah hingga hari ketiga setelah gempa utama bermagnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Selasa (16/6/26).
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, mengatakan gempa susulan terbesar yang tercatat mencapai magnitudo 5,3.
“Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis BMKG, hingga saat ini telah terjadi 782 gempa susulan, dengan kekuatan terbesar magnitudo 5,3,” ujar Djati di Palu, Kamis (18/6).
Ia menjelaskan, aktivitas gempa susulan masih merupakan bagian dari rangkaian gempa utama bermagnitudo 6,7 yang berpusat sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu dengan kedalaman 10 kilometer.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Warga juga diminta terus mengikuti perkembangan informasi resmi yang disampaikan BMKG maupun pemerintah daerah.
“Kami terus memperbarui data kegempaan dan menyampaikan informasinya melalui kanal resmi BMKG serta pemerintah daerah,” katanya.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 300.2.1/199/BPBD-C.ST/2026. Status tersebut berlaku hingga 23 Juni 2026.
Wilayah yang masuk dalam status tanggap darurat meliputi Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Poso.
Wakil Bupati Sigi sekaligus Ketua Satgas Tanggap Darurat Bencana, Samuel Pongi, mengatakan pemerintah daerah terus melakukan upaya penanganan bagi warga terdampak, termasuk evakuasi dan penyediaan layanan dasar.
“Kami berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat terdampak. Posko induk, posko kesehatan, dan dapur umum telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan warga,” ujarnya.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa Sulawesi Tengah bertambah menjadi tiga orang berdasarkan hasil pemutakhiran data kaji cepat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut seluruh korban meninggal berasal dari Kabupaten Sigi yang menjadi wilayah dengan dampak terparah.
Hingga Kamis (18/6) pukul 13.51 WIB, BNPB mencatat tiga korban meninggal dunia, 17 orang mengalami luka berat, dan 91 orang luka ringan.
Selain korban jiwa, dampak bencana juga dirasakan oleh sedikitnya 2.109 kepala keluarga atau sekitar 6.412 jiwa yang tersebar di sejumlah wilayah terdampak gempa.
Pemerintah pusat dan daerah terus melakukan penanganan darurat serta pendataan lanjutan guna memastikan kebutuhan para korban dapat terpenuhi selama masa tanggap darurat berlangsung.





