ISTANBUL (kabarpublik.id) – Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyatakan bahwa perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menunjukkan kemajuan signifikan. Ia optimistis kedua negara akan mencapai kesepakatan akhir melalui jalur diplomasi.
Dalam wawancara dengan Al Arabiya saat kunjungannya ke Kairo, Minggu, Dar mengatakan bahwa hubungan antara Washington dan Teheran berkembang ke arah yang positif, meski tahapan perundingan berikutnya diperkirakan akan lebih kompleks.
“Saya yakin kedua pihak pada akhirnya akan mencapai kesepakatan,” ujar Dar.
Menurutnya, AS dan Iran telah menyepakati pengurangan tingkat pengayaan uranium dalam persediaan nuklir Iran. Kedua negara juga disebut memiliki pandangan yang sama bahwa diplomasi merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan berbagai perbedaan yang ada.
Dar turut mengungkapkan bahwa tidak akan ada biaya transit maupun biaya layanan yang dikenakan di Selat Hormuz selama periode 60 hari. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran aktivitas pelayaran dan perdagangan di kawasan.
Ia juga menyampaikan bahwa saat ini tiga tim teknis sedang bekerja di Swiss untuk membahas sejumlah isu penting, termasuk program nuklir Iran, aset Iran yang dibekukan, serta situasi politik dan keamanan di Lebanon.
Delegasi AS dan Iran berada di Swiss untuk melanjutkan pembicaraan setelah penandatanganan nota kesepahaman pada 17 Juni lalu. Kesepakatan tersebut bertujuan mengakhiri ketegangan yang berlangsung selama berbulan-bulan di Timur Tengah sekaligus membuka kembali akses pelayaran melalui Selat Hormuz.
Perundingan yang berlangsung di Burgenstock itu dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance. Sementara dari pihak Iran hadir Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Pakistan berperan sebagai mediator dalam proses dialog tersebut.
Upaya diplomatik yang sedang berlangsung diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan yang mampu meredakan ketegangan regional serta memperkuat stabilitas keamanan dan ekonomi di kawasan Timur Tengah.






