Breaking News
Live Update Berita Terkini

Mirae Asset: Penurunan Yield Obligasi Jadi Kunci Lanjutan Penguatan IHSG

Selasa, 16 Jun 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) Rully Arya Wisnubroto. (ANTARA/M. Baqir Idrus Alatas.)
Dengarkan dgn suara Siap
4.8K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberlanjutan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Head of Research sekaligus Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan arah pasar saham ke depan sangat dipengaruhi oleh sejumlah indikator makroekonomi, terutama nilai tukar rupiah dan yield Surat Berharga Negara (SBN).

Menurutnya, apabila rupiah mampu mempertahankan tren penguatan dan yield SBN tenor 10 tahun terus menurun dari level tertingginya yang sempat berada di atas 7,3 persen, maka premi risiko investasi Indonesia akan semakin mengecil.

“Kondisi tersebut berpotensi membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun pasar saham Indonesia,” ujar Rully dalam keterangan resminya.

Dalam sepekan terakhir, IHSG menunjukkan tren kenaikan yang cukup signifikan. Indeks yang berada di level 5.344,69 pada 9 Juni terus menguat hingga mencapai 6.118,73 pada 15 Juni 2026.

Rully menjelaskan bahwa penguatan pasar saat ini masih didorong oleh faktor technical rebound yang didukung kebijakan moneter Bank Indonesia serta meredanya ketegangan geopolitik global.

Bank Indonesia sebelumnya menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas pasar keuangan dan memperkuat kepercayaan investor.

Selain itu, sentimen positif juga datang dari perkembangan geopolitik internasional. Laporan mengenai kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran turut membantu meredakan ketidakpastian global, sehingga berdampak positif terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar obligasi.

Meski demikian, Rully mengingatkan bahwa investor masih mencermati sejumlah faktor eksternal dan domestik, termasuk arah kebijakan moneter global, perkembangan ekonomi dunia, serta stabilitas pasar keuangan nasional.

Ia menilai tanda-tanda perbaikan memang mulai terlihat, namun pasar masih membutuhkan konfirmasi lebih kuat bahwa penurunan premi risiko dan penguatan rupiah dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Arus modal asing masih bergerak secara selektif dan cenderung menunggu kepastian kondisi pasar yang lebih stabil,” kata Rully.

Karena itu, keberlanjutan tren positif IHSG dalam beberapa waktu ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi, nilai tukar rupiah, serta penurunan yield obligasi pemerintah.

No More Posts Available.

No more pages to load.