Breaking News
Live Update Berita Terkini

Menjaga Nyala Reog di Panggung zaman

Minggu, 14 Jun 2026
Editor: Jamalul Insan
Sejumlah penari menampilkan tarian kolosal pada pembukaan Grebeg Suro di Alun-alun Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (6/6/2026). Festival yang masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) tersebut digelar untuk menyambut datangnya tahun baru Islam sekaligus tahun baru Jawa, yang diisi dengan Festival Nasional Reog Ponorogo dan berbagai kegiatan seni budaya serta keagamaan yang akan berlangsung hingga 15 Juni 2026. (ANTARA FOTO)
Dengarkan dgn suara Siap
3.4K pembaca
SURABAYA  (Kabarpublik.id) – Di bawah bayang-bayang dadak merak yang menjulang, Reog Ponorogo selalu menghadirkan lebih dari sekadar tontonan. Ia adalah kisah tentang identitas, ingatan kolektif, dan daya tahan budaya yang terus bergerak mengikuti zaman.

Ketika puluhan kelompok Reog berkumpul di Alun-Alun Ponorogo dalam Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun 2026 pada 11–14 Juni 2026, yang dipertaruhkan bukan hanya gelar penyaji terbaik atau Piala Presiden. Hal yang sedang diuji adalah kemampuan sebuah warisan budaya untuk tetap hidup di tengah perubahan sosial yang begitu cepat.

FNRP tahun ini menjadi momentum penting. Sebanyak 32 kontingen dari berbagai daerah tampil dalam ajang yang telah memasuki penyelenggaraan ke-31. Kehadiran peserta dari Surabaya, Nganjuk, Wonogiri, Surakarta, hingga Palembang menunjukkan bahwa Reog tidak lagi sekadar milik Ponorogo. Ia telah menjelma menjadi simpul budaya yang menghubungkan berbagai daerah melalui satu kesenian yang sama.

Momentum tersebut semakin bermakna setelah Reog Ponorogo memperoleh pengakuan dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pengakuan internasional itu membawa kebanggaan, sekaligus tanggung jawab besar. Sebab, pengakuan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal dari pekerjaan panjang menjaga keberlanjutan tradisi.

Dalam konteks itulah FNRP menjadi lebih relevan. Festival bukan sekadar panggung kompetisi tahunan, melainkan instrumen pelestarian yang konkret. Ia mempertemukan para pelaku budaya, membuka ruang regenerasi, sekaligus memperkuat ekosistem seni yang menopang keberlangsungan Reog.

Regenerasi budaya

Menariknya, peta kekuatan peserta beberapa tahun terakhir memperlihatkan fenomena yang patut dicermati. Banyak kelompok terbaik justru berasal dari lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. Nama-nama kontingan, seperti SMA Muhammadiyah Ponorogo, SMAN 1 Ponorogo, Universitas Brawijaya, hingga UIN Kiai Ageng Muhammad Besari menunjukkan bahwa generasi muda mulai mengambil alih tongkat estafet pelestarian.

Sejumlah pelajar SMP Negeri 2 Ponorogo menampilkan tarian Reog Ponorogo saat mengikuti Festival Reog Remaja di Alun-alun Ponorogo, Jawa Timur, Senin (8/6/2026). Pemerintah daerah setempat menggelar agenda yang diikuti sedikitnya 24 grup reog remaja dengan pemain terdiri dari siswa-siswi SMP sebagai sarana pembinaan sekaligus upaya melestarikan kesenian Reog Ponorogo kepada generasi muda. (ANTARA FOTO)

Fenomena ini memberikan harapan. Banyak warisan budaya di berbagai negara menghadapi persoalan serius berupa menurunnya minat generasi muda. Tradisi menjadi semakin tua karena pelakunya tidak bertambah. Namun, yang terjadi pada Reog menunjukkan gejala berbeda.

Keterlibatan pelajar dan mahasiswa menandakan bahwa Reog berhasil menyeberangi batas generasi. Seni yang lahir ratusan tahun lalu mampu diterjemahkan ulang oleh anak-anak muda yang hidup di era media sosial dan kecerdasan buatan.

Namun, regenerasi tidak boleh dimaknai sekadar penambahan jumlah pemain. Tantangan sebenarnya adalah memastikan para generasi muda memahami makna yang terkandung di balik setiap gerak tari, iringan gamelan, kostum, hingga filosofi tokoh-tokoh dalam Reog.

Di sinilah pentingnya festival yang tidak hanya menilai aspek teknis pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang pendidikan budaya. Ketika seorang pelajar mempelajari karakter Warok atau memahami simbolisme Singobarong, sesungguhnya ia sedang belajar tentang sejarah, nilai kepemimpinan, keberanian, dan identitas daerahnya.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan pelestarian budaya bergantung pada kemampuan menjadikan tradisi relevan bagi generasi baru. Jepang berhasil mempertahankan teater Kabuki karena terus membuka ruang bagi generasi muda. Korea Selatan mengembangkan budaya tradisional menjadi bagian dari diplomasi budaya global. Indonesia pun memiliki peluang serupa melalui Reog.

Karena itu, langkah Ponorogo yang menggelar Festival Reog Remaja berdampingan dengan FNRP merupakan strategi yang tepat. Regenerasi tidak boleh menunggu. Ia harus disiapkan sejak dini melalui ruang apresiasi dan kompetisi yang sehat.

Ekonomi kebudayaan

Di balik gemuruh kendang dan sorak penonton, ada sisi lain yang sering luput dari perhatian. Reog juga merupakan kekuatan ekonomi.

Setiap penyelenggaraan Grebeg Suro dan FNRP selalu menghadirkan efek berganda bagi masyarakat. Hotel terisi, rumah makan ramai, pusat oleh-oleh bergerak, perajin kostum memperoleh pesanan, pedagang kaki lima mendapatkan pembeli, hingga sektor transportasi menikmati peningkatan aktivitas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya bukan beban pembangunan, melainkan aset ekonomi yang bernilai tinggi. Di berbagai negara, ekonomi berbasis budaya menjadi salah satu sektor yang tumbuh paling cepat. Festival budaya tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga memperkuat citra daerah.

Masuknya FNRP ke dalam Karisma Event Nusantara (KEN) selama lima tahun berturut-turut menjadi bukti bahwa festival ini memiliki daya tarik nasional. Bahkan, partisipasi kelompok dari luar Jawa, seperti Palembang memperlihatkan jangkauan pengaruh Reog yang semakin luas.

Meski demikian, tantangan berikutnya adalah meningkatkan kualitas penyelenggaraan agar manfaat ekonominya semakin besar. Promosi digital harus diperkuat. Paket wisata budaya perlu dikembangkan secara lebih terintegrasi. Dokumentasi pertunjukan dapat dikemas menjadi konten kreatif yang menjangkau audiens global.

Selain itu, perlu dipikirkan bagaimana ekosistem ekonomi Reog dapat hidup sepanjang tahun, tidak hanya saat festival berlangsung. Sentra kerajinan, sekolah seni, pelatihan pelaku budaya, hingga pengembangan produk kreatif berbasis Reog dapat menjadi jalan keluar.

Pelestarian budaya akan jauh lebih kuat ketika para pelakunya memperoleh manfaat ekonomi yang layak. Sebab tradisi yang mampu memberi kehidupan akan lebih mudah bertahan dibanding tradisi yang hanya bergantung pada romantisme masa lalu.

Harapan bersama

Festival Nasional Reog Ponorogo XXXI bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, festival ini menjadi cermin perjalanan sebuah budaya yang sedang mencari keseimbangan antara menjaga akar dan menjangkau masa depan.

Pengakuan UNESCO telah membuka pintu dunia bagi Reog. Namun, yang menentukan keberlanjutannya bukanlah sertifikat internasional, melainkan kerja kolektif masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dan generasi muda.

Ponorogo telah menunjukkan langkah yang menjanjikan melalui regenerasi pelaku seni, perluasan partisipasi daerah, serta penguatan festival sebagai agenda nasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan Reog terus hidup bukan hanya di panggung festival, tetapi juga dalam keseharian masyarakat.

Sebab warisan budaya sejatinya bukan benda yang disimpan di lemari sejarah. Ia adalah nyala yang harus terus dijaga. Dan selama dadak merak masih menari di hadapan generasi baru, selama gamelan masih berdentang mengiringi langkah para penari muda, harapan itu akan tetap hidup dari Ponorogo untuk Indonesia. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.