IHSG ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 30,28 poin atau 4,89 persen ke posisi 588,99.
“Pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Liza memaparkan setidaknya terdapat lima kekhawatiran utama yang mendominasi sentimen investor, di antaranya governance and policy credibility (tata kelola dan kredibilitas kebijakan) pasca outlook negatif dari Moody’s dan Fitch Rating, dan tekanan kurs rupiah yang mendekati level 18.000 per dolar AS.
Kemudian, menyusutnya kelas menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi domestik, foreign outflow (dana asing keluar) yang terus berlanjut, serta yang paling hot belakangan ini adalah meningkatnya leadership and policy communication risk di mata investor global.
“Apakah Indonesia sedang memasuki fase structural de-rating? Mungkin saja, tetapi belum tentu. Nyatanya saat ini pasar terlihat mulai memperlakukan Indonesia berbeda dibanding emerging markets lain,” ujar Liza.
Indonesia ETF (EIDO) mencatat return minus 28,6 persen sejak awal 2025, sementara emerging markets naik 64,6 persen, Vietnam naik 63,2 persen, Taiwan naik 107,2 persen dan Amerika Serikat naik 30,9 persen.
“Dengan kata lain, investor global tidak sedang meninggalkan emerging markets; mereka secara spesifik sedang mengurangi eksposur terhadap Indonesia,” ujar Liza.
Pelemahan IHSG juga terasa semakin kontras saat beberapa Bursa global justru mampu mencatatkan rekor baru masing-masing.
Liza menjelaskan fokus investor saat ini bergeser ke dua pekan paling krusial pada tahun ini.
Pada 19 Juni 2026, akan berlangsung MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review, disusul oleh FTSE Rebalancing efektif 22 Juni 2026, serta MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026.
Setelah Moody’s dan Fitch, Liza menyebut bahwa FTSE dan MSCI berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia.
“Menariknya, hampir seluruh berita buruk yang dapat dibayangkan investor sebenarnya sudah muncul dalam enam bulan terakhir, di antaranya rupiah melemah, foreign outflow meningkat, Moody’s dan Fitch negatif, kekhawatiran terhadap S&P meningkat, serta MSCI dan FTSE melakukan review terhadap Indonesia,” ujar Liza.
Namun demikian, Liza mengingatkan bahwa Indonesia hingga saat ini masih mempertahankan status investment grade, S&P masih mempertahankan outlook stabil, MSCI belum mengubah klasifikasi Indonesia, serta FTSE juga belum menempatkan Indonesia dalam downgrade watch list.
Menurut dia, artinya sebagian risiko yang saat ini ditakuti pasar masih berupa kemungkinan, bukan fakta yang telah terjadi.
“Masalahnya, kebijakan Indonesia yang tidak bijak suka muncul tiba-tiba secara misterius,dan seringkali malah memberikan another blow to the market,” ujar Liza.
Dalam jangka pendek, Liza menyebut FTSE dan MSCI kemungkinan akan menjadi ujian terpenting berikutnya.
“Pertanyaan yang harus dijawab investor bukan lagi “mengapa IHSG jatuh?” Melainkan, apakah pasar saat ini sedang menilai risiko Indonesia secara objektif, atau sudah mulai menghukum Indonesia lebih keras daripada yang seharusnya,” ujar Liza.
Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah dipimpin sektor barang baku yang turun sebesar 9,31 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor infrastruktur yang masing-masing turun sebesar 5,23 persen dan 5,01 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar yaitu WEHA, MMIX, OMRE, MSIN dan CASA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni TPIA, APIC, ARKO, GMTD dan KJEN.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.767.373 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 40,17 miliar lembar saham senilai Rp25,25 triliun. Sebanyak 69 saham naik, 692 saham menurun dan 54 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 1.742,76 poin atau 2,61 persen ke 68.477,00, indeks Shanghai menguat 8,87 poin atau 0,22 persen ke 4.083,97, indeks indeks Hang Seng melemah 405,11 poin atau 1,56 persen ke 26.038,32, dan indeks Strait Times menguat 37,29 poin atau 0,73 persen ke 5.134,98. (ant)





