RABAT (kabarpublik.id) – Bentrokan antara pasukan keamanan Maroko dan ratusan imigran kembali terjadi di perbatasan menuju Melilla, wilayah otonom Spanyol di pesisir utara Afrika, Sabtu (1/8).
Rekaman video yang beredar di media sosial dan sejumlah media lokal memperlihatkan konfrontasi antara kelompok imigran dan aparat keamanan saat terjadi upaya penerobosan massal di kawasan perbatasan.
Media Maroko, Hibapress, melaporkan bentrokan dipicu oleh aksi ratusan imigran yang berusaha menyeberang ke Melilla melalui jalur tidak resmi. Insiden tersebut menyebabkan sejumlah petugas keamanan dan imigran mengalami luka-luka.
Pihak berwenang Maroko dilaporkan telah menangkap sedikitnya 50 orang yang diduga terlibat dalam aksi penerobosan tersebut.
Situasi yang terus memanas memaksa Pos Perbatasan Beni Ansar, yang menghubungkan Kota Beni Ansar di Maroko dengan Melilla, ditutup selama dua hari berturut-turut. Penutupan ini mengganggu aktivitas perjalanan masyarakat, termasuk warga diaspora Maroko yang hendak kembali ke negaranya.
Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat sekitar 48.300 orang telah kembali ke Maroko hingga Jumat (31/7) sore waktu setempat. Angka tersebut berasal dari total sekitar 60.000 migran yang sebelumnya memasuki wilayah Ceuta dalam beberapa hari terakhir.
Otoritas Spanyol juga melaporkan adanya korban jiwa dalam gelombang migrasi tersebut. Sejumlah migran dilaporkan tewas tenggelam saat mencoba mencapai Ceuta melalui jalur laut, sementara lainnya meninggal akibat berdesakan di sekitar pagar perbatasan.
Hingga kini, jumlah korban meninggal yang berhasil dievakuasi di wilayah Spanyol mencapai 57 orang. Operasi pencarian masih berlangsung untuk menemukan kemungkinan korban lainnya yang belum ditemukan.
Dalam beberapa hari terakhir, puluhan ribu warga Maroko berkumpul di sekitar perbatasan Ceuta dan Melilla dengan harapan dapat memasuki wilayah Eropa melalui jalur migrasi nonprosedural.
Ceuta dan Melilla merupakan dua wilayah administrasi Spanyol yang berada di pesisir utara Maroko. Kedua wilayah tersebut menjadi satu-satunya perbatasan darat langsung antara Uni Eropa dan benua Afrika, sehingga kerap menjadi titik utama arus migrasi menuju Eropa.





