Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ) pada Kamis, mengutip sumber, keputusan tersebut masih dibahas pada tingkat Departemen Keamanan Dalam Negeri, sehingga masih belum jelas apakah Gedung Putih akan menyetujuinya.
Masih belum jelas pula apakah biaya tersebut akan dibayar langsung oleh mahasiswa asing atau pihak yang mempekerjakan mereka di AS.
Apabila benar diterapkan, biaya tersebut akan dipungut melalui program pelatihan praktis pilihan (OPT) yang membolehkan mahasiswa asing yang lulus dari kampus-kampus AS untuk bekerja dengan visa pelajar hingga tiga tahun.
Laporan WSJ itu juga menyebut 419.000 mahasiswa asing bekerja di AS melalui program tersebut pada 2024.
Langkah tersebut akan berdampak secara signifikan pada kampus-kampus yang mengandalkan mahasiswa asing sebagai sumber keuntungan yang terjamin serta perusahaan Silicon Valley dan Wall Street yang lebih banyak merekrut lulusan berkewarganegaraan asing di posisi-posisi yang terkait dengan teknologi.
Adapun awal bulan ini, Departemen Keamanan Dalam Negeri mengatakan bahwa otoritas AS akan menerapkan pembatasan masa berlaku visa untuk jurnalis asing, mahasiswa, dan peserta program pertukaran.
Pada bulan lalu, The Washington Post melaporkan bahwa kampus-kampus di AS mulai mengalami kesulitan keuangan karena menurunnya jumlah mahasiswa internasional sebagai imbas dari semakin ketatnya kebijakan imigrasi pemerintahan Presiden Trump.
Sumber: Sputnik (ant)



