“Seluruh dunia kini bertanya-tanya, apakah masih ada sesuatu yang belum dikenai sanksi oleh AS dan apa lagi yang akan mereka batasi?” kata Ghashghavi.
Ghashghavi juga menanggapi pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang mengatakan bahwa penerapan segera sanksi sekunder terhadap mitra dagang Iran berisiko menyebabkan keruntuhan sistem keuangan global.
“Semua orang telah mendengar pernyataan yang bertentangan dari Menteri Keuangan AS… Jelas bahwa sanksi-sanksi ini memberikan tekanan terhadap ekonomi global, dan menteri AS sendiri mengakui hal tersebut,” ujar Ghashghavi.
Pada 28 Februari, AS dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap mereka.
Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan permusuhan. Namun, tak lama kemudian, kedua pihak kembali saling melancarkan serangan.
Presiden AS Donald Trump pada 20 Agustus mengumumkan dimulainya operasi ekonomi terhadap Iran yang disebutnya sebagai “isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Trump juga mendesak sekutu-sekutu AS untuk bergabung dengan Washington dalam langkah tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti (ant)






