Breaking News
Live Update Berita Terkini

Sikap BARA JP soal Isu Dasco dan Absennya Jokowi di Hari Pancasila

Senin, 15 Jun 2026
Editor: Eky
Ilustrasi Ketum Bara JP beberkan sikap terkait isu Dasco dan absennya Jokowi di hari Pancasila. (Eky/kabarpublik.id)
Dengarkan dgn suara Siap
4.5K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Ketua Umum BARA JP Willem Frans Ansanay akhirnya angkat bicara terkait polemik viral yang menyeret nama Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam isu dugaan ucapan “Asal Jangan Hidup Jokowi” serta ramainya spekulasi mengenai ketidakhadiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.

Frans menegaskan bahwa publik tidak boleh terburu-buru menyimpulkan atau menghakimi sebelum mengetahui konteks sebenarnya dari informasi yang beredar.

Menurutnya, sepulang dari kunjungan ke Chongqing, Tiongkok, dirinya menerima banyak laporan dan pertanyaan dari pengurus serta kader BARA JP di berbagai daerah mengenai isu yang ramai diperbincangkan tersebut.

“Saya melihat mayoritas kader hanya meminta kejelasan dan klarifikasi. Mereka tidak serta-merta menyalahkan siapa pun. Ini menunjukkan masyarakat masih ingin mendapatkan informasi yang utuh dan objektif,” kata Frans kepada wartawan, Minggu (14/6/26)

Ia menilai sangat mungkin terdapat pihak-pihak tertentu yang sengaja memainkan narasi untuk menciptakan kesan adanya keretakan hubungan antara Jokowi, Prabowo Subianto, maupun Sufmi Dasco Ahmad.

Menurut Frans, Dasco merupakan salah satu tokoh sentral di Partai Gerindra yang memiliki kedekatan dan kepercayaan tinggi dari Presiden Prabowo. Karena itu, berbagai isu yang menyerangnya perlu dicermati secara hati-hati.

“Di era digital dan kecerdasan buatan seperti sekarang, informasi dapat dipotong, diedit, bahkan direkayasa sehingga terlihat meyakinkan. Karena itu kita harus lebih bijak dalam menyikapi setiap informasi yang viral,” ujarnya.

Hubungan Jokowi dan Prabowo Dinilai Tetap Kokoh

Frans menepis anggapan bahwa polemik tersebut dapat merusak hubungan Jokowi dan Prabowo.

Menurutnya, hubungan kedua tokoh nasional itu telah terbangun melalui perjalanan politik yang panjang dan memiliki fondasi yang kuat.

Ia mengingatkan bahwa dukungan Jokowi kepada Prabowo pada Pilpres 2024 menjadi salah satu faktor penting yang turut membentuk konfigurasi politik nasional saat ini.

“Kalau hanya karena isu viral lalu disimpulkan hubungan Jokowi dan Prabowo renggang, menurut saya itu terlalu jauh. Pak Prabowo adalah sosok yang rasional dan mampu melihat persoalan secara objektif,” tegasnya.

Frans juga menilai Presiden Prabowo merupakan figur negarawan yang memahami pentingnya menjaga persatuan bangsa di atas kepentingan politik sesaat.

Soal Jokowi Tak Hadir di Hari Lahir Pancasila

Selain menanggapi isu Dasco, Frans turut menyoroti polemik ketidakhadiran Jokowi dalam peringatan Hari Lahir Pancasila yang memicu beragam spekulasi politik.

Sebagai relawan yang hingga kini tetap menghormati Jokowi, Willem menilai persoalan tersebut tidak perlu dibesar-besarkan.

Ia mengacu pada penjelasan dari Sekretaris Jokowi yang menyebut undangan acara tersebut tidak diterima oleh mantan presiden itu.

“Bisa saja terjadi persoalan administratif dalam distribusi undangan. Tidak semua hal harus ditarik ke ranah konflik politik,” ujarnya.

Frans juga menolak spekulasi yang menghubungkan absennya Jokowi dengan kehadiran Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dalam acara tersebut.

Menurutnya, banyak tokoh nasional lain yang juga tidak hadir karena agenda masing-masing sehingga tidak tepat jika ketidakhadiran seseorang langsung dikaitkan dengan konflik atau ketegangan politik.

Jokowi, Megawati, Prabowo dan SBY Harus Jadi Simbol Persatuan

Lebih lanjut, Frans menegaskan bahwa hubungan baik antara Jokowi, Prabowo, Megawati Soekarnoputri, dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono merupakan modal penting bagi persatuan bangsa.

Ia berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang berusaha membenturkan para tokoh nasional tersebut.

“Kedekatan para pemimpin bangsa harus menjadi contoh bahwa perbedaan politik tidak harus berujung pada perpecahan. Bangsa ini membutuhkan persatuan untuk menghadapi tantangan pembangunan ke depan,” katanya.

Sikap Resmi BARA JP: Bersama Jokowi dan Prabowo-Gibran

Menutup pernyataannya, Frans memastikan BARA JP tetap berada dalam garis dukungan yang sama seperti yang selama ini ditunjukkan Jokowi.

Ia mengatakan seluruh kader BARA JP di daerah telah diinstruksikan untuk tetap tenang, tidak terprovokasi oleh isu-isu yang berkembang, dan fokus mendukung stabilitas nasional.

“Kami belajar dari Pak Jokowi. Sikap kami jelas, tenang, mengamati situasi, dan mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran. Hari ini posisi BARA JP tetap bersama Pak Jokowi dan bersama pemerintahan Prabowo-Gibran,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.