GORONTALO (Kabarpublik.id) – Sejumlah komunitas literasi di Kota Gorontalo memperluas gerakan membaca ke ruang publik dengan menghadirkan lapak baca, ruang diskusi, dan permainan tradisional di tengah aktivitas masyarakat, sebagai upaya mendekatkan budaya literasi kepada warga.
Anggota Komunitas Sampul Belakang Ahmad Faruq Ananda di Gorontalo, Minggu, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari Gerakan Rutin Literasi Rakyat (Gerilya) yang mempertemukan berbagai komunitas literasi dalam satu wadah kolaborasi bertema “Satu Gorontalo Membaca”.
“Gerilya ini kami jadikan ruang untuk mempertemukan seluruh komunitas literasi di Kota Gorontalo agar bisa bergerak bersama secara rutin. Tujuannya memperkenalkan literasi bukan hanya sebatas membaca dan menulis, tetapi juga membangun ruang berbagi pengetahuan di tengah masyarakat,” katanya.
Menurut Faruq, konsep Gerilya sebelumnya telah diterapkan Komunitas Sampul Belakang dengan membawa buku ke warung kopi sebagai cara mendekatkan bacaan kepada masyarakat. Melalui kolaborasi tersebut, gerakan diperluas dengan melibatkan Gorontalo.

Pada kegiatan kali ini komunitas sengaja memilih lokasi yang ramai aktivitas warga agar masyarakat dapat mengakses buku tanpa harus datang ke perpustakaan.
“Kami mengutamakan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan. Pada pelaksanaan kali ini, yang terlibat adalah masyarakat yang sedang berbelanja di Indogrosir karena di sana aktivitas masyarakat cukup tinggi,” ujarnya.
Gerakan tersebut mengusung konsep menghadirkan buku secara langsung di ruang publik agar masyarakat lebih mudah berinteraksi dengan bahan bacaan, sekaligus memanfaatkan ruang bersama sebagai tempat belajar alternatif. Tujuan kegiatan itu juga mencakup penyediaan akses buku gratis, ruang diskusi, serta membangun kebiasaan membaca di luar lingkungan sekolah dan kampus.
Kepala Bidang Perpustakaan Kabupaten Bone Bolango Yudiawan Maksum yang turut hadir mengatakan kegiatan literasi di ruang publik perlu terus dilakukan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah.
“Kegiatan seperti ini harus terus dilaksanakan. Literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab komunitas, tetapi seluruh elemen masyarakat. Saya berharap kegiatan ini bisa rutin digelar setiap pekan dan menjangkau lebih banyak ruang publik,” katanya.
Ia menilai keterlibatan berbagai komunitas serta partisipasi generasi muda dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat di daerah. (ant)







