News Update
Live Update Berita Terkini

Kepala Bappenas: Dampak El Nino dan La Nina Kian Besar, Perlu Antisipasi Dini

Selasa, 4 Agu 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy (keenam dari kiri) dalam agenda Dialog Nasional “Memperkuat Respons Lintas Sektor Dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat”, di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8/2026). ANTARA/Muhammad Baqir Idrus Alatas
Dengarkan dgn suara Siap
10.7K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan bahwa fenomena El Nino dan La Nina bukan hal baru, namun dampaknya semakin besar dan memengaruhi berbagai sektor strategis di Indonesia.

Dalam Dialog Nasional bertajuk Memperkuat Respons Lintas Sektor dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8), Rachmat mengatakan perubahan iklim telah meningkatkan intensitas dan risiko yang ditimbulkan oleh kedua fenomena tersebut.

“El Nino dan La Nina bukan fenomena baru, tetapi gradasi dan dampaknya dari tahun ke tahun semakin besar,” ujar Rachmat.

Menurutnya, persoalan iklim tidak bisa lagi dipandang sebagai isu biasa karena kenaikan suhu global berdampak langsung terhadap kondisi lingkungan, ketahanan pangan, energi, serta ketersediaan sumber daya air.

Ia menjelaskan berbagai negara telah mengantisipasi dampak perubahan iklim sejak lama, mulai dari menghadapi kekeringan dan banjir hingga mengembangkan sistem mitigasi penyakit serta varietas tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem.

Sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam perencanaan pembangunan nasional, Bappenas menaruh perhatian besar pada sektor pangan, energi, dan air yang sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Rachmat menekankan pentingnya mengubah pendekatan penanganan dampak iklim dari yang bersifat reaktif menjadi langkah antisipasi dini yang terukur dan berbasis data ilmiah.

“Kita harus memastikan respons terhadap perubahan iklim tidak lagi sekadar reaktif, tetapi menjadi aksi dini yang terpadu, terukur, dan didukung analisis iklim yang kuat,” katanya.

Menurutnya, fondasi sains yang kuat serta kerja sama lintas sektor menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan pembangunan nasional sekaligus memperkuat ketahanan Indonesia menghadapi dinamika iklim global.

Dalam kesempatan tersebut, Rachmat juga menyoroti peran strategis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam mendukung ketahanan pangan, energi, dan air melalui penyediaan informasi iklim yang akurat.

Terkait pengelolaan sumber daya air, ia menilai Indonesia sebagai negara kepulauan seharusnya mampu mengatasi persoalan kekurangan maupun kelebihan air melalui manajemen yang baik dan sistem peringatan dini yang efektif.

Selain berdampak pada sektor pangan dan sumber daya alam, perubahan iklim juga berpengaruh terhadap upaya pengendalian pencemaran lingkungan serta pencapaian target penurunan emisi karbon nasional menuju net zero emission pada 2060.

Karena itu, pemerintah terus mendorong penguatan strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim agar pembangunan nasional tetap berjalan berkelanjutan di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem.

No More Posts Available.

No more pages to load.