News Update
Live Update Berita Terkini

Ekoenzim, Solusi Hemat dengan Limbah Bermanfaat

Minggu, 23 Agu 2026
Editor: Jamalul Insan
Warga Desa Benteng mengikuti pelatihan memilah dan mengolah sampah serta membuat cairan fermentasi limbah organik ekoenzim di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. (ANTARA/Fransiska Ninditya)
Dengarkan dgn suara Siap
1.3K pembaca
JAKARTA  (Kabarpublik.id) – Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah dengan baik, yang menyebabkan kondisi di tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) terdapat penumpukan dan timbunan sampah.

Banyak hal menjadi penyebab menumpuknya sampah, antara lain peningkatan populasi, perubahan gaya hidup masyarakat, hingga ketiadaan sistem pengolahan limbah yang belum memadai. Tingginya pertumbuhan penduduk dan banyaknya urbanisasi menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat juga mengalami peningkatan.

Kemudian, kebiasaan membeli makanan, daripada memasak sendiri di rumah, menjadi lebih praktis dan menyisakan sampah plastik pembungkus, hingga sampah sisa makanan. Apabila pertumbuhan jumlah penduduk dan gaya hidup masyarakat sulit untuk dikendalikan, maka menciptakan ekosistem pengolahan limbah menjadi pemberi harapan pasti untuk mengatasi masalah sampah.

Mengelola yang Terbuang

Menurut data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), angka sampah nasional mencapai angka 31,9 juta ton di tahun 2023. Dari jumlah sampah tersebut, sebanyak 11,3 juta ton di antaranya atau sekitar 35,6 persen tidak dapat dikelola.

Penumpukan sampah tak terkelola itu berisiko tinggi akan longsor dan kebakaran akibat gas metana yang diproduksi sampah-sampah organik di TPA. Bencana akibat menumpuk sampah begitu saja tanpa dikelola dengan benar, atau disebut juga open dumping, kerap terjadi.

Pada Juni lalu, kebakaran besar terjadi di TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, hingga menyebabkan ratusan warga mengungsi dan terpapar infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kebakaran terjadi di hampir separuh dari luas TPA tersebut karena akumulasi gas metana dari sampah organik di tempat pembuangan itu terpantik oleh cuaca panas. Pemadamannya pun memerlukan waktu yang tidak singkat, yakni lebih dari 10 hari.

Penumpukan sampah di TPA juga menjadi risiko di Bogor. Sampah produksi rumah tangga di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor dialihkan ke TPA Galuga, yang setiap hari menampung hingga sekitar 2.000 ton sampah dari dua daerah tersebut. Hingga kini, diperkirakan sudah ada 15 juta ton sampah yang tidak terolah di TPA seluas 31,8 hektare itu. TPA Galuga, bahkan pernah longsor di tahun 2019 hingga menyebabkan 18 warga kehilangan lahan pertanian dan aset mereka.

Masalah sampah bisa menjadi bom waktu apabila tidak segera ditangani. Guna meminimalkan risiko akibat penumpukan sampah di TPA Galuga, salah satu desa di Kabupaten Bogor berupaya mengolah sampah organik dari rumah warga untuk menjadi hal lebih bermanfaat.

Di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, masyarakat antusias untuk mengolah sampah organik mereka menjadi ekoenzim, cairan fermentasi yang diproduksi dari limbah organik ampas buah dan sayuran dengan ditambah molase atau air gula.

Sebelum mengolah sampah organik, masyarakat perlu memilah sampah dari rumah mereka dengan memisahkan limbah organik dan anorganik terlebih dahulu. Sampah organik dari rumah tangga itu kemudian yang dapat dikumpulkan untuk dijadikan cairan ekoenzim.

Pelatihan Ekoenzim

Dalam pelatihan ekoenzim di Desa Benteng pada akhir Juli lalu, sekira 40 orang, yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga di desa itu, mendapat pengetahuan baru tentang membuat ekoenzim.

Warga Desa Benteng mengikuti pelatihan memilah dan mengolah sampah serta membuat cairan fermentasi limbah organik ekoenzim di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. (ANTARA/Fransiska Ninditya)

Dengan didampingi penyuluh pertanian dari Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Pemkab Bogor serta pegiat ekoenzim dari Komunitas Eco-enzyme Nusantara Bogor Raya, para ibu rumah tangga di Desa Benteng membuat carian ekoenzim dan disimpan di rumah mereka masing-masing.

Nantinya, setelah tiga hingga empat bulan, cairan ekoenzim itu dapat digunakan sebagai obat luka dan sanitasi udara ruangan. Bahkan, cairan ekoenzim bisa untuk membuat sabun cuci piring dan sabun cuci baju dengan ditambahkan methyl esther sulfonate (MES) dan biang sabun atau garam.

Tati, seorang ibu berusia 54 tahun yang sehari-hari berkebun, mengaku baru pertama kali mengenal ekoenzim. Dia memang selalu memproduksi sampah organik di rumahnya, yang biasanya dia buang ke tempat sampah lalu dibakar. Tati mengatakan tidak sulit untuk membuat cairan ekoenzim dari sampah organik. Setelah membuat cairan ekoenzim dalam pelatihan tersebut, Tati merasa tidak sabar untuk menunggu cairan fermentasi sampah organik yang dia buat dapat berhasil menjadi ekoenzim.

“Kalau soal cairan ekoenzim, saya baru tahu dan baru pertama kali ini, ternyata gampang membuatnya. Nanti kalau sudah jadi, mau saya pakai untuk menyemprot tanaman. Di rumah saya memang selalu ada sampah dari kulit buah dan sayuran. Jadi, nanti saya mau coba bikin,” kata Tati.

Sebagian besar masyarakat di Desa Benteng memang berkegiatan sebagai petani kebun untuk tanaman palawija, seperti singkong, jagung, kacang, dan jambu. Neneng (56 tahun) telah memilah sampah di rumahnya sejak tahun 2019 setelah mendapat penyuluhan untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Hanya saja, selama ini Neneng hanya mengolah sampah organik dari rumahnya untuk menjadi maggot sebagai pakan ikan dan ayam yang dia pelihara.

“Maggot di kolam ikan saya banyak sekali, sampai menumpuk. Bahkan, saking banyaknya maggot yang sudah ada, sampah sisa buah dan sayur dari dapur saya buang begitu saja. Dengan pelatihan (membuat) ekoenzim ini, saya jadi tahu ada cara lain untuk mengolah sampah organik,” kata Neneng.

Membuat ekoenzim tidaklah sulit karena hanya memerlukan tiga bahan, yakni sampah organik dari sisa kulit buah dan sayur, molase atau air gula, serta air, masing-masing dengan perbandingan 3:1:10. Sehingga, dengan sisa kulit buah dan sayur seberat 300 gram, maka perlu ditambah dengan molase sebanyak 100 gram dan air satu liter.

Semua bahan itu lalu dimasukkan ke dalam wadah plastik bertutup rapat dan jangan menggunakan wadah kaca, karena fermentasi ekoenzim menghasilkan gas. Sebaiknya, wadah plastik yang dipakai agak lebih besar supaya masih ada ruang untuk gas hasil fermentasi. Seminggu pertama setelah memasukkan semua bahan tersebut ke dalam wadah plastik, sebaiknya tutupnya dibuka sesekali untuk melepaskan gas hasil fermentasi. Kemudian, setelah tiga bulan, cairan ekoenzim tersebut sudah dapat digunakan.

Pelatihan membuat ekoenzim, yang menjadi bagian dari kegiatan Sustainable Journalism Fellowship 2026 oleh CIMB Niaga bersama Indonesian Institute of Journalism, menjadi sangat bermanfaat bagi ibu-ibu di Desa Benteng itu. Salah satu penyuluh di Desa Benteng Titik Mulyati mengatakan pernah memberikan pelatihan serupa dengan dibantu pegiat ekoenzim Siti Maryam.

“Sudah pernah membuat ekoenzim yang biasanya dimanfaatkan untuk mengobati luka, menyemprot tanaman; justru ini ilmu baru karena ternyata cairan ekoenzim bisa untuk membuat sabun cuci piring dan sabun cuci baju. Mudah-mudahan ini bisa diaplikasikan oleh ibu-ibu di Desa Benteng,” ujar Titik.

Dengan adanya ekoenzim, sampah ternyata bisa menjadi banyak manfaat, karena dengan cairan serbaguna tersebut, masyarakat menjadi sadar untuk memilah dan mengelola sampah serta menggunakan produk-produk sanitasi alami. Selain itu, dengan membuat ekoenzim secara mandiri, masyarakat dapat mengurangi volume sampah di tempat pembuangan akhir dan dapat membuat sabun cuci lebih alami tanpa harus membeli.

Semoga, ekoenzim dapat dikenal dan diaplikasikan semakin luas dan menjadi solusi hemat bagi masyarakat dengan limbah bermanfaat. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.