MENGAMATI figur kepemimpinan yang bermunculan saat ini di kabupaten Halmahera Timur tidak begitu membawa komunikasi yang baik ke masyarakat. Kepemimpinan merupakan tolak ukur dari level komunikasi ke kebawah untuk menentukan apakah pemimpin tersebut di anggap berpengaruh atau tidak.
Hal demikian se-jalan dengan pola pikir masyarakat tradisional moderen yang justru menganggap komuniksi sebagai satu hal mendasar menentukan segala aspek kemajuan dari upaya informasi yang diperoleh.
Komunikasi tidak menganggap pencitraan ketika seorang pemimpin turut langsung berhadapan dengan rakyat, namun hal demikian yaitu bagian dari proses komunikasi timbal balik antara pemimpin dan rakyatnya.
Kondisi pandemi Covid-19 saat ini yang melumpuhkan segalah aspek kehidupan, seharusnya seorang pemimpin berada di tengah rakyat tampil dan menguatkan hati rakyat dengan upaya jaminan sosial menyeluruh.
Kondisi bangsa saat ini muncul prasangka buruk dari masyarakat akibat peran komunikasi tidak terbangun, ‘tidak ada pemanfaatan media di ruang ini’ akibatnya pemberitaan pandemi masif di samping itu kebijakan seorang pemimpin tidak berpihak pada rakyat.
Media memiliki kedudukan sangat penting karena secara langsung menyajikan sesuatu dalam memandang realitas, walaupun media menggambarkan informasi secara jelas dan langsung.
Persoalan lain, yakni peran figur terhadap kondisi saat ini tidak nampak terdengar, rakyat hanya berfungsi menilai mana pencitraan dan mana tanggung jawab dalam opini ini, penulis tidak bermaksud menganggap figur mana yang tidak berpihak pada rakyat.
Sejauh ini bagi penulis, mencermati dinamiki proses berpolitikan di Halmahera Timur, sampai saat ini belum ada publik figur yang elektabilitasnya diminati rakyat ada penurunan kepercayaan sebelum pandemi dan sesudah pandemi dari penilaian rakyat.
Pemimpin setidaknya berutang pada rakyat, apa pasalnya?. Karena rakyat merupakan fasilitator, pemimpin hadir harus diakui sebagai produk negara dan rakyat. Tanpa adanya rakyat mustahil ada sebuah kepemimpinan.
Kondisi ini menggelisahkan dan memang harus diakui bahwa itu tidak dalam koridor yang benar, masyarakat adalah pemilih tetap yang akan terus menerus dan harus diperhatikan, bukan saja kesejahteraan materi, juga kesejahteraan nonmateri, dengan mengedepankan etika kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian figur yang dinantikan rakyat adalah dia yang memiliki kepekaan sosial dan komunikasi tidak dipandang searah lebih dari tujuan untuk merangkul rakyat dan mendengar apa kemauan rakyat.##
Oleh : Jaidi Abdul Gani (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya).





