IRGC menyatakan drone itu merupakan MQ-1 ke-14 yang berhasil dicegat dan dihancurkan oleh sistem pertahanan udaranya.
Menurut ISNA, insiden tersebut terjadi di wilayah udara sebelah timur Selat Hormuz, tepat di seberang kawasan pesisir Sirik.
MQ-1 merupakan pesawat nirawak buatan Amerika Serikat (AS), meskipun IRGC tidak menyebutkan pihak mana yang mengoperasikan drone tersebut dalam pernyataannya.
Insiden itu terjadi di tengah meningkatnya indikasi kemungkinan adanya babak baru tindakan ofensif baru oleh AS dan Israel terhadap Iran.
The Wall Street Journal melaporkan pada Selasa bahwa Washington telah meminta sejumlah negara Arab di kawasan Teluk untuk bersiap menghadapi “kampanye militer singkat dan intensif” terhadap Teheran setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Menurut laporan tersebut, Presiden AS Donald Trump belum mengambil keputusan akhir, tetapi cenderung memilih serangan besar setelah pemilihan umum berlangsung.
AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian merespons dengan melancarkan serangan rudal dan drone ke berbagai wilayah di kawasan tersebut serta secara efektif menutup Selat Hormuz yang merupakan alur utama pasokan energi global.
Nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni, yang bertujuan untuk membuka jalan menuju kesepakatan damai final kemudian gagal berlanjut akibat sejumlah perbedaan pendapat, termasuk mengenai pelayaran di selat tersebut.
Sumber: Anadolu (ant)




