Breaking News
Live Update Berita Terkini

Iran Klaim Hancurkan Delapan Fasilitas Militer AS di Kuwait dan Bahrain

Senin, 29 Jun 2026
Editor: Jamalul Insan
Ilustrasi - Iran meluncurkan rudal ke arah pangkalan-pangkalan militer AS di negara Teluk. ANTARA/Anadolu/py.
Dengarkan dgn suara Siap
11.3K pembaca

ISTANBUL  (Kabarpublik.id) – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Minggu (26/8) mendaku telah menghancurkan delapan fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain melalui serangkaian serangan rudal dan drone, televisi nasional IRIB melaporkan.

IRGC menyatakan operasi tersebut dilakukan bersama pasukan laut dan udara. Sasaran serangan meliputi delapan fasilitas militer AS di Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait serta fasilitas yang terkait dengan Armada Kelima AS di Bahrain.

Dalam pernyataannya, IRGC mengatakan serangan rudal balistik dan drone itu merupakan balasan atas serangan AS baru-baru ini terhadap fasilitas Iran di Sirik dan Pulau Qeshm.

Menurut laporan IRIB, operasi tersebut dilakukan beberapa jam setelah ketegangan meningkat di perairan Teluk dan menjadi salah satu serangan langsung Iran yang paling signifikan terhadap aset AS di kawasan sejak konflik dimulai.

Eskalasi itu terjadi meski Iran dan AS telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari.

MoU tersebut mulai berlaku pada 18 Juni setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump.

Dokumen tersebut antara lain mengatur penghentian perang, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade laut AS terhadap Iran, serta perundingan lanjutan mengenai program nuklir Iran.

Sepakat Hentikan Permusuhan, AS-Iran akan Bertemu di Qatar

Meski saling serang masih berlanjut, Amerika Serikat dan Iran sepakat menghentikan permusuhan dan akan mengadakan pertemuan di Qatar pada Selasa untuk membahas perselisihan terkait Selat Hormuz, Axios melaporkan pada Minggu (28/6).

Amerika Serikat dan Iran sepakat menghentikan permusuhan dan akan mengadakan pertemuan di Qatar pada Selasa untuk membahas perselisihan terkait Selat Hormuz, Axios melaporkan pada Minggu (28/6)

Menurut laporan tersebut, bentrokan yang kembali terjadi dipicu oleh perbedaan penafsiran terhadap implementasi nota kesepahaman (MoU) yang mengakhiri perang, khususnya ketentuan terkait Selat Hormuz.

“Kami memutuskan untuk menghentikan seluruh aktivitas kinetik,” kata seorang pejabat senior AS, merujuk pada serangan dan operasi bersenjata lainnya.

Berdasarkan MoU tersebut, Iran berjanji mengupayakan keselamatan pelayaran kapal-kapal dagang di Selat Hormuz, sementara AS sepakat mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Dalam pembicaraan di Swiss pekan lalu, Wakil Presiden AS JD Vance dan delegasi Iran juga sepakat membentuk jalur komunikasi langsung antara militer AS dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran untuk mengoordinasikan pelayaran di Selat Hormuz.

Namun hingga Sabtu, jalur komunikasi tersebut dilaporkan belum beroperasi, meski Iran kembali menegaskan bahwa kapal-kapal harus berkoordinasi sebelum melintasi Selat Hormuz.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa pertemuan Selasa semula dijadwalkan berlangsung di Swiss untuk membahas program nuklir Iran. Namun, eskalasi terbaru mendorong perubahan lokasi ke Doha, Qatar, sekaligus mengalihkan fokus pembahasan ke Selat Hormuz.

Sebelumnya pada Minggu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa perundingan AS-Iran mengalami kebuntuan setelah bentrokan kembali pecah.

MoU Islamabad mulai berlaku pada 18 Juni setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump.

Dokumen itu mencakup penghentian perang, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade laut AS terhadap Iran, serta perundingan lanjutan mengenai program nuklir Iran.

Sumber: Anadolu (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.