Breaking News
Live Update Berita Terkini

ICCD Dorong Sistem Ekonomi Berbasis Keadilan dan Produktivitas untuk Pembangunan Berkelanjutan

Minggu, 7 Jun 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Presiden Kamar Dagang dan Pembangunan Islam (ICCD) Abdullah Saleh Kamel saat menghadiri KTT yang diselenggarakan Forum AlBaraka untuk Ekonomi Islam dengan tema “Capital in the Islamic Economy: Structuring Wealth for Sustainable Development” (Modal dalam Ekonomi Islam: Menata Kekayaan untuk Pembangunan Berkelanjutan) pada 3–6 Juni di Istanbul, Turkiye. (ANTARA/HO-ICCD)
Dengarkan dgn suara Siap
3.6K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Presiden Kamar Dagang dan Pembangunan Islam (ICCD), Abdullah Saleh Kamel, menegaskan pentingnya membangun sistem ekonomi yang berlandaskan keadilan, etika, dan produktivitas, bukan semata-mata mengejar keuntungan finansial.

Pernyataan tersebut disampaikan Kamel dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Forum AlBaraka untuk Ekonomi Islam yang berlangsung di Istanbul, Turkiye, pada 3–6 Juni 2026. Forum tersebut mengangkat tema “Capital in the Islamic Economy: Structuring Wealth for Sustainable Development” atau “Modal dalam Ekonomi Islam: Menata Kekayaan untuk Pembangunan Berkelanjutan.”

Menurut Kamel, sistem ekonomi global saat ini menghadapi ketidakseimbangan struktural yang semakin nyata. Ia menilai modal telah bergeser dari fungsi dasarnya sebagai alat pembangunan menjadi instrumen yang lebih berorientasi pada kepentingan pemilik modal dan keuntungan pribadi.

“Dunia membutuhkan sistem ekonomi yang mampu mengembalikan etika pada modal. Saat ini terdapat ketidakseimbangan yang semakin dalam dalam model ekonomi global,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (7/6).

Kamel menyoroti berbagai dampak negatif yang muncul akibat orientasi ekonomi yang hanya berfokus pada keuntungan, termasuk meningkatnya kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, serta minimnya perlindungan terhadap kelompok rentan.

Ia juga mengkritik praktik tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dinilai belum mampu mengimbangi dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas bisnis.

Menurutnya, kontribusi CSR masih relatif kecil dibandingkan kerugian yang harus ditanggung masyarakat akibat berbagai aktivitas ekonomi yang tidak berkelanjutan.

Selain itu, Kamel menyinggung meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak media sosial terhadap anak-anak dan remaja. Sejumlah negara, kata dia, mulai mengkaji pembatasan usia penggunaan media sosial sebagai langkah perlindungan terhadap kesehatan mental dan perilaku generasi muda.

Ia menilai fenomena tersebut menjadi salah satu indikator adanya persoalan etika dalam sistem ekonomi modern yang sering kali mengutamakan pertumbuhan bisnis dibandingkan dampak sosialnya.

Tiga Prinsip Modal dalam Ekonomi Islam

Dalam paparannya, Kamel menjelaskan tiga prinsip utama pengelolaan modal dalam ekonomi Islam.

Pertama, modal harus bersifat produktif, mampu menciptakan nilai tambah, dan digunakan untuk menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Kedua, uang tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Prinsip ini menjadi dasar larangan riba dalam ekonomi Islam karena uang dipandang sebagai alat transaksi, bukan objek perdagangan.

Ketiga, kekayaan tidak boleh ditimbun atau dimonopoli. Sebaliknya, kekayaan harus terus berputar dan berkembang melalui instrumen sosial seperti zakat, sedekah, dan wakaf yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Kamel juga menyoroti meningkatnya konsentrasi kekayaan global yang menurutnya semakin terkumpul pada kelompok kecil masyarakat. Kondisi tersebut, kata dia, berjalan beriringan dengan meningkatnya beban utang negara di berbagai belahan dunia.

“Kelompok kaya semakin kaya, sementara kelompok miskin semakin tertinggal. Ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan yang serius dalam sistem ekonomi global,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dominasi perusahaan multinasional, terutama perusahaan teknologi besar, turut memperkuat ketimpangan ekonomi dan menimbulkan tantangan baru bagi pemerintah di berbagai negara.

Ekonomi Islam sebagai Alternatif

Menurut Kamel, ekonomi Islam menawarkan kerangka yang berbeda melalui pendekatan yang menekankan produktivitas, pemerataan kesejahteraan, tanggung jawab sosial, dan pengelolaan kekayaan yang berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa prinsip-prinsip ekonomi Islam tidak hanya relevan bagi masyarakat Muslim, tetapi juga dapat menjadi referensi bagi upaya membangun sistem ekonomi global yang lebih adil dan inklusif.

KTT Ekonomi Islam Global Ketiga tersebut dihadiri para menteri, gubernur bank sentral, pimpinan lembaga keuangan, akademisi, dan peneliti dari berbagai negara. Acara ini juga dihadiri Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdoğan serta sejumlah tokoh dunia Islam.

Forum AlBaraka menyelenggarakan kegiatan tersebut bekerja sama dengan sejumlah lembaga strategis, termasuk Kantor Investasi dan Keuangan Kepresidenan Turkiye, Dana Kekayaan Turkiye, Pusat Keuangan Istanbul, Universitas Ibn Haldun, dan Forum Pemuda Kerja Sama Islam.

No More Posts Available.

No more pages to load.